Oxium Dalam Plastik Ramah lingkungan
Mempercepat Degradasi Plastik
Zat adiktif, Oxium, dapat mempercepat terjadinya proses degradasi plastik dalam waktu kurang lebih dua tahun sehingga mendukung pengurangan kerusakan lingkungan yang sudah semakin parah.
Oxium membuat plastik menjadi ramah lingkungan dan tidak berbahaya bagi manusia sehingga menjadi solusi aman dan bijak untuk lingkungan. Oxium diproduksi oleh PT Tirta Marta dengan teknologi proses yang dirancang oleh Sumber Daya Manusia(SDM) Indonesia dan merupakan adiktif plastik ramah lingkungan yang pertama di Indonesia.
Sebagian besar masyarakat Indonesia masih menjadikan plastik sebagai bahan kemasan favorit karena keistimewaan yang dimiliki dan tidak ada pada bahan kemasan lain seperti kertas atau kaca.
Saat ini yang harus dilakukan adalah mempercepat terjadinya proses penguraian plastik, yang awalnya membutuhkan waktu ribuan tahun menjadi lebih singkat dengan hanya beberapa tahun saja. Oxium telah mendapatkan Green Label dari Indonesia Solid Waste Association (INSWA) sebuah lembaga yang bergerak dalam masalah sampah dan lingkungan yang bersih.
Plastik berasal dari jasad renik (mikroorganisme) dari tumbuhan laut yang mati dan mengendap di dasar bumi sehingga berdasarkan teori organik yang dikemukakan oleh ilmuwan Engker (1911) proses pelapukan dan penguraian secara anaerob dalam batuan berpori akan mentransformasi jasad-jasad renik tersebut menjadi minyak bumi yang menjadi bahan dasar plastik.
Masalah plastik memang menjadi sebuah permasalahan yang sering diungkapkan dalam berbagai macam diskusi tentang lingkungan. Jenis plastik biasa baru bisa terdegradasi sampai 1.000 tahun sehingga dapat menyebabkan tanah longsor, polusi dari pembakaran plastik, dan banjir sedangkan Oxium tidak berakibat berbahaya bagi lingkungan dan manusia. Oxium telah digunakan sebagai tas berbelanja oleh banyak pasar modern di Indonesia seperti Carrefour, Indomaret, Alfamart, Hero, Ginat, dan Gramedia
Bahan plastik yang menggunakan petrolim sangat sulit terdegradasi dan jika menggunakan bahan kandungan hayati bisa lebih mudah terdegradasi seperti dari bahan singkong.Sampai saat ini hal itu masih dalam tahap penelitian dan belum dikomersialkan. Di dunia industri negara-negara maju penggunaan plastik yang dapat terdegradasi dalam waktu yang cepat masih belum bisa dipasarkan secara murah seperti penjualan plastik di pasar tradisional.Saat ini 70 persen plastik di pasaran digunakan sebagai pengemas seperti pembungkus makanan atau benda-benda lainnya sehingga masyarakat menjadi terbiasa menggunakan plastik.Pada saat ini di beberapa negara di seluruh dunia sedang melakukan kampanye agar tidak menggunakan plastik karena sangat berbahaya bagi lingkungan seperti Singapura yang mencoba mengurangi kerusakan lingkungan dengan menghimbau masyarakatnya untuk tidak menggunakan plastik.
Indomaret Menggunakannya
Kini Indomaret menggunakan kantong plastik ramah lingkungan guna menekan jumlah kantong plastik yang mencemari lingkungan dan mengganggu kesehatan. Penggunaan kantong plastik ramah lingkungan oxium (oxi degradable) yang mudah terurai (degradable) telah dimulai secara bertahap di Indomaret sejak bulan Juli 2009. Program ini merupakan komitmen Indomaret menjaga kelestarian alam dan mendukung program pemerintah dengan dikeluarkannya UU Nomor 18 tahun 2008 tentang pengelolaan sampah.
Kantong plastik oxium terbuat dari campuran zat degradable dimana plastik akan hancur dalam kurun 2 tahun. Periode kehancurannya tergantung dari panas dan kelembaban penyimpanannya serta berlaku untuk semua jenis ketebalan plastik. Sementara bahan dasar minyak bumi akan mengalami proses peleburan yang sangat lama.
Indomaret sebagai tempat yang menjual kebutuhan pokok dan sehari-hari setiap bulan membutuhkan kantong plastik rata-rata 48 kg per toko. Dengan jumlah toko mencapai 3.624 dibutuhkan 173.952 kg per bulan. Kebutuhan tersebut akan terus meningkat seiring dengan perkembangan toko. Oleh karena itu sebagai pengganti pemakaian kantong plastik konvensional dengan plastik degradable sangat mendesak dan tidak dapat ditunda-tunda lagi. Bukan saja akan membantu mengurangi penggunaan minyak bumi, gas alam dan sumber alam lainnya, upaya ini wujud nyata dari upaya menyelamatkan lingkungan.
Di beberapa toko ritel, mulai bisa dijumpai kantong plastik yang ramah lingkungan. Atau menjual kantong belanja berbahan kain. Ada juga toko yang menjual satu kantong plastik ukuran layar televisi 21 inchi dengan harga lebih dari 10 ribu rupiah.
Sebetulnya ada dua macam, ada bio-degradable dan oxium. Bio-degradable ini dibuat dari singkong. Singkong kan banyak di Indonesia. Kalau yang oxium ini ada penambahan oksidasi sehingga terurai lebih cepat. Indomaret pakai oxium, Century oxium, Kemchick pakai yang dari singkong ya. Di sini kan ditulis ada yang 1000 tahun, ada yang 500 tahun, tapi yang ini bisa 24 bulan, berarti kan 2 tahun.
Kehadiran kantong plastik ramah lingkungan diyakini bisa ikut mendidik masyarakat untuk mengurangi penggunanaan plastik. Di negara-negara maju seperti Jepang dan Eropa disediakan dropping box tempat mengumpulkan kemasan-kemasan plastik yang sudah tidak terpakai. Tapi belum di Indonesia, yang memilah sampah pun belum dilakukan secara serius.
Plastik

Istilah plastik mencakup produk polimerisasi sintetik atau semi-sintetik. Mereka terbentuk dari kondensasi organik atau penambahan polimer dan bisa juga terdiri dari zat lain untuk meningkatkan performa atau ekonomi. Ada beberapa polimer alami yang termasuk plastik. Plastik dapt dibentuk menjadi film atau fiber sintetik. Nama ini berasal dari fakta bahwa banyak dari mereka “malleable”, memiliki properti keplastikan. Plastik didesain dengan varias yang sangat banyak dalam properti yang dapat menoleransi panas, keras, “reliency” dan lain-lain. Digabungkan dengan kemampuan adaptasinya, komposisi yang umum dan beratnya yang ringan memastikan plastik digunakan hampir di seluruh bidang industri.
Plastik dapat juga menuju ke setiap barang yang memiliki karakter yang deformasi atau gagal karena shear stress- lihat keplastikan (fisika) dan ductile.
Plastik dapat dikategorisasikan dengan banyak cara tapi paling umum dengan melihat tulang-belakang polimernya (vinyl{chloride}, polyethylene, acrylic, silicone, urethane, dll.). Klasifikasi lainnya juga umum.
Plastik adalah polimer; rantai-panjang atom mengikat satu sama lain. Rantai ini membentuk banyak unit molekul berulang, atau “monomer”. Plastik yang umum terdiri dari polimer karbon saja atau dengan oksigen, nitrogen, chlorine atau belerang di tulang belakang. (beberapa minat komersial juga berdasar silikon). Tulang-belakang adalah bagian dari rantai di jalur utama yang menghubungkan unit monomer menjadi kesatuan. Untuk mengeset properti plastik grup molekuler berlainan “bergantung” dari tulang-belakang (biasanya “digantung” sebagai bagian dari monomer sebelum menyambungkan monomer bersama untuk membentuk rantai polimer). Pengesetan ini oleh grup “pendant” telah membuat plastik menjadi bagian tak terpisahkan di kehidupan abad 21 dengan memperbaiki properti dari polimer tersebut.
Pengembangan plastik berasal dari penggunaan material alami (seperti: permen karet, “shellac”) sampai ke material alami yang dimodifikasi secara kimia (seperti: karet alami, “nitrocellulose”) dan akhirnya ke molekul buatan-manusia (seperti: epoxy, polyvinyl chloride, polyethylene).

Tidak ada komentar:
Posting Komentar