1
PENGOLAHAN LIMBAH DENGAN MEDIA BIOFILTER PASIR
AM. Anggun (L2C604118) dan Benedictus Setyo A (L2C604125)
Jurusan Teknik Kimia, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro
Jln. Prof. Sudharto, Tembalang, Semarang, 50239, Telp/Fax: (024)7460058
Pembimbing: Ir. Sumarno, M.Si
Abstrak
Konsep High Performance Biofiltration adalah pengembangan terakhir dari teknologi intermittent
sand filter (saringan pasir). Penyaringan merupakan salah satu prinsip unit operasi yang biasanya
digunakan pada pengolahan air minum, dan memindahkan padatan tersuspensi dari buangan
pengolahan secara biologi atau buangan secara koagulasi. Tujuan penelitian ini adalah untuk
mengetahui penurunan COD pada media biofilter pasir dan mengetahui lama kontak terhadap
penurunan COD pada media biofilter pasir dengan menggunakan limbah cair buatan. Manfaat dari
penelitian ini adalah untuk mengembangkan teknologi pengolahan limbah yang sederhana dan
handal. Variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah tinggi pasir terhadap laju alir pompa
ke kolam penampung. Cara kerja dalam penelitian ini terdiri dari dua tahap yaitu pembuatan limbah
sintetik dan analisa sampel. Dari hasil percobaan dapat disimpulkan bahwa semakin tinggi pasir
yang digunakan maka semakin besar persen penurunan COD yang didapat dan semakin besar laju
alir yang digunakan maka persen penurunan COD yang didapat akan semakin besar pula.
Kata kunci: media biofilter pasir ; penurunan COD.
Abstract
High Performance Biofiltration concept is the last development from intermittent sand filter
technology. Filtrtion is one of operation unit principal which is usually used at drinking water
processing and to move a suspended solid from biological processing waste or coagulational waste.
The aim of this research is to know the degradation of COD from sand biofiltration media and to
know the contact time with COD degradation from sand biofiltration media with made solid waste.
The benefit of this experiment is to develop simple and reliable waste treatment technology. The
variables which is used in this experiment are high of sand filtration with flow rate pump to lagoon.
This experiment contains two process which are making sintetic waste and sample analization. The
results of this experiment are height of sand filtration which used to measure the COD is influencing
the percent of COD degradation, and flow rate make influencing too with percent of COD
degradation.
Keywords: sand biofiltration media; COD degradation.
1. Pendahuluan
Konsep High-Performance Biofiltration (HPB) adalah pengembangan terakhir dari teknologi
intermittent sand filter (saringan pasir intermittent). Menurut dokumen US EPA (Environment Protection Agency
= Badan Perlindungan Lingkungan AS) : "Intermittent sand filtration bukanlah teknologi baru dalam hal
pengolahan air limbah." (Anderson, et al, 1985) Dilaporkan bahwa berbagai jenis sand-filtration telah digunakan
untuk memurnikan air selama berabad-abad. Konsep intermittent sand filter modern lahir dari pengamatan yang
dilakukan pada pertengahan 1800an terhadap "sewage farms"(daerah pembuangan limbah) di tanah berpasir. Air
yang keluar dari drainase area ini dimana air limbah dibuang secara berkala menjadi termurnikan. Inilah yang
menyebabkan sand-bed kemudian dipakai untuk pengolahan air limbah.
Selama lebih dari 100 tahun terakhir banyak hal yang telah berhasil diketahui tentang teknologi
intermittent sand-filter. Dalam 3 dekade terakhir teknologi ini telah dipelajari dan digunakan untuk mengatasi
masalah pengolahan air limbah skala kecil. Hal ini dilaporkan dalam US EPA's Technology Assessment :
"Intermittent sand filters sangat cocok untuk kawasan desa, perumahan kecil, rumah tunggal, maupun kawasan
bisnis. Teknologi ini dapat mencapai level pengolahan air sampai tingkat sekunder bahkan tingkat tersier secara
konsisten tanpa banyak perhatian."
2
Penyaringan merupakan salah satu prinsip unit operasi yang biasanya digunakan pada pengolahan air
minum dan memindahkan padatan tersuspensi dari buangan pengolahan secara biologi atau buangan pengolahan
secara koagulasi.
Media saringan sangant penting dalam proses penyaringan. Faktor yang mempengaruhi penyaringan
adalah kekeruhan dari buangan, tinggi lapisan penyaringan, kemudahan pencucian kembali dan ketinggian dan
ketinggian resisten kimia.Pada penelitian ini media saringan yang digunakan adalah lapisan pasir dan kombinasi
lapisan pasir dan lapisan "anthracite" , sementara cara "kaolin" dan "kaolin" koagulasi adalah menggunakan
limbah cair buatan.
Teknologi sand-filter dipilih untuk menangani sistem pengolahan air limbah skala kecil karena
beroperasi secara handal dan bebas masalah seperti dilaporkan dalam EPA's Technology Assessment. Teknologi
ini stabil dan hampir bebas dari risiko kegagalan. Secara umum teknologi ini dikategorikan sebagai "attached
growth aerobic process" dan intermittent sand filter adalah salah satu versinya dimana beban yang dikenakan
sangat kecil. Waktu tinggal sel yang lama adalah kunci kestabilan sistem ini. Selain itu sistem ini terdiri dari
beragam jenis mikroba dan beberapa jenis makroba (Calaway, et al, 1955, Calaway, 1957). Karakteristik inilah
yang membuat sistem ini tahan terhadap kejenuhan dan mampu mengakomodasi keadaan dimana air limbah yang
masuk sangat tidak uniform.
Penyebab utama kegagalan proses biofiltrasi adalah tersumbatnya filter bed. Ketika penyumbatan makin
parah, terbentuklah penghalang yang menghalangi keluarnya air limbah melalui filter. Konsekuensinya adalah
masuknya kembali air limbah ke dalam sistem. Bahkan ketika penyumbatan menyebabkan air limbah
menggenang di atas permukaan pasir kondisi sangat parah kualitas effluent tidak akan turun drastis. Saat filter
bed telah diperbaiki biasanya memerlukan waktu yang singkat karena tinggal disesuaikan dengan desain awal,
proses akan segera kembali normal. Biasanya penyumbatan terbentuk pelan-pelan dalam hitungan tahun.
(Anderson, et al, 1985) Masalah yang baru terjadi dapat dikenali dengan segera oleh operator dan bisa langsung
dilakukan maintenance.
Teknologi ini jelas berbeda dengan activated sludge (lumpur aktif) yang merupakan teknologi yang
paling sering dipakai pada pengolahan air limbah skala kecil. Pengolahan limbah dengan lumpur aktif
dipengaruhi oleh beberapa jenis mikroba aerobic yang tersuspensi dalam cairan dengan konsentrasi yang sangat
tinggi, memerlukan aerasi aktif untuk menjamin mikrobanya tetap hidup. Keadaan cairan harus dikontrol dengan
ketat, biasanya dengan mengeluarkan lumpur aktif beberapa jam atau akan terjadi kejenuhan dalam sistem.
Karakteristik inilah yang menyebabkan sistem ini tidak stabil, memerlukan input energi secara konstan serta
perhatian penuh untuk menjaga parameter operasi tetap sesuai yang disyaratkan. Selain itu, proses ini tidak
mampu menangani air limbah yang tidak uniform, lagipula tidak ada teori yang sesuai untuk proses ini kecuali
bila dianggap sebagai proses steady-state. Oleh karena tidak ada penghalang bagi aliran air sebelum keluar
sistem, bila terjadi kegagalan operasi, effluent yang keluar akan langsung terpengaruh. Sekali terjadi kegagalan
lumpur aktif memerlukan waktu yang cukup lama untuk dapat kembali beroperasi normal.
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui penurunan COD pada media biofilter pasir dan untuk
mengetahui lama kontak terhadap penurunan COD pada media biofilter pasir.
2. Bahan dan Metode Penelitian
Variabel percobaan ada 2 yaitu variabel kendali : waktu sirkulasi 24 jam dan variabel berubah : tinggi pasir
serta laju alir sirkulasi.
Alat dan bahan yang digunakan adalah bak penampung, bak pemompa, pompa celup, tabung COD,
erlenmeyer, gelas ukur, beaker glass, kompor listrik, termometer, busa. Bahan – bahan yang digunakan adalah :
pasir, pati 50 gr, urea 10 gr, asam phospat 1 ml, K2Cr2O7 5 ml; FAS 37,42 ml; H2SO4 15 ml, indikator ferroin,
aquadest. Sedangkan gambar rangkaian alat seperti dibawah ini.
3
Gambar 1 Rangkaian Alat Percobaan Sand Filtration
Dalam penelitian ini, ada 2 langkah cara kerja yaitu: pembuatan limbah sintetik dan analisa sampel.
Pembuatan limbah sintetik dilakukan dengan cara:
Air 500 ml dipanaskan sampai hampir mendidih lalu ditambah 50 gr pati dan diaduk sampai hampir menjadi pasta.
Pasta yang sudah terbentuk dijadikan 100 liter lalu ditambah urea 10 gr dan asam phospat 1 ml. Campuran tersebut
dimasukkan dalam bak pemompa dan diambil 2 ml untuk dianalisa sebagai sampel influent. Campuran tersebut lalu
disirkulasi selama seminggu.
Analisa sampel dilakukan dengan cara:
Setelah campuran disirkulasi selama seminggu, ambil 2 ml sampel untuk dianalisa sebagai sampel effluent. Sampel
2 ml tersebut ditambah K2Cr2O7 3 ml dan ditambah H2SO4 4 ml lalu dimasukkan dalam tabung COD. Campuran
kemudian dioven pada suhu 170 °C selama 2 jam. Setelah dioven biarkan sampai dingin lalu ditetesi dengan
indikator ferroin 3 tetes sampai warna menjadi kuning. Setelah itu dititrasi menggunakan FAS sampai warna
menjadi orange dan catat kebutuhan titrasinya. Analisa sampel diulang lagi untuk variabel berikutnya.
3. Hasil dan Pembahasan
Dari hasil percobaan didapat laju alir kecil = 750 ml/mnt dan laju alir besar = 1600 ml/mnt. Data hasil
percobaan secara lengkap dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 1 Hasil Percobaan
Laju Alir
Kecil
750 ml/menit
Besar
1600 ml/menit
Tinggi
Pasir
Influent Effluent % Penurunan Influent Effluent % Penurunan
10 2618,91 mg/l 64,14 mg/l 97,55 2618,91 mg/l 24,05 mg/l 99,08
15 2618,91 mg/l 34,74 mg/l 98,67 2618,91 mg/l 29,40 mg/l 98,88
Dari hasil percobaan dapat dilihat bahwa tinggi pasir yang digunakan sebagai variabel untuk pengukuran
COD berpengaruh terhadap persen penurunan COD. Semakin tinggi pasir yang digunakan maka semakin besar
persen penurunan CODnya. Hal ini disebabkan karena mikroba yang terdapat dalam limbah mengalami kontak yang
cukup lama dengan media biofilter pasir sehingga mempengaruhi persen CODnya. Jika semakin tinggi pasir yang
digunakan maka waktu kontak antara mikroba dengan pasir menjadi semakin lama karena limbah akan sering
mengalami sirkulasi. Hal ini mengakibatkan persen penurunan COD menjadi semakin besar.
Berdasarkan hasil percobaan dapat dilihat bahwa laju alir juga berpengaruh terhadap persen penurunan
COD. Dari data yang kami dapatkan laju alir besar didapatkan persen penurunan COD yang lebih besar dibanding
laju alir kecil. Hal ini disebabkan karena variabel laju alir besar sering mengalami sirkulasi antara mikroba dengan
pasir dibanding variabel laju alir kecil. Oleh karena seringnya kontak antara mikroba dengan pasir inilah yang
mengakibatkan persen penurunan CODnya menjadi besar. Semakin besar laju alir yang digunakan maka waktu yang
dibutuhkan untuk sirkulasi semakin cepat dan hal ini mengakibatkan persen penurunan CODnya akan mengalami
kenaikan dibandingkan dengan variabel laju alir kecil.
busa
pasir
bak pemompa
bak penampung
4
4. Kesimpulan
Semakin tinggi variabel pasir yang digunakan maka semakin besar persen penurunan CODnya. Semakin
besar laju alir yang digunakan maka akan mendapatkan persen penurunan COD yang semakin besar pula.
Ucapan Terima Kasih
Dalam kesempatan ini penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada:
1. Bapak Ir. Sumarno, M.Si selaku dosen pembimbing penelitian.
2. Bapak Dr. Ir. Abdullah, MS selaku Ketua Jurusan Teknik Kimia Fakultas Teknik Universitas
Diponegoro.
Daftar Pustaka
Pustaka yang berupa majalah/jurnal ilmiah/prosiding:
Calaway, W.T. 1955. Intermittent Sand Filters Multiple Loadings. Sewage Works Journal, Vol. 21, No. 6:1002-
1015.
Calaway, W.T. 1957. Intermittent Sand Filters and their Biology. Sewage Works Journal, Vol. 29, No. 1:1-5.
Pustaka yang berupa judul buku :
Anderson, D. L., R. L. Siegrist, and R. J. Otis. 1985. Technology Assessment of Intermittent Sand Filters, U.S. EPA,
Office of Research and Development, Municipal Environmental Research Laboratory, Cincinnati.
Kamis, 05 Agustus 2010
1 PENGOLAHAN LIMBAH DENGAN MEDIA BIOFILTER PASIR AM. Anggun (L2C604118) dan Benedictus Setyo A (L2C604125) Jurusan Teknik Kimia, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro Jln. Prof. Sudharto, Tembalang, Semarang, 50239, Telp/Fax: (024)7460058 Pembimbing: Ir. Sumarno, M.Si Abstrak Konsep High Performance Biofiltration adalah pengembangan terakhir dari teknologi intermittent sand filter (saringan pasir). Penyaringan merupakan salah satu prinsip unit operasi yang biasanya digunakan pada pengolahan air minum, dan memindahkan padatan tersuspensi dari buangan pengolahan secara biologi atau buangan secara koagulasi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui penurunan COD pada media biofilter pasir dan mengetahui lama kontak terhadap penurunan COD pada media biofilter pasir dengan menggunakan limbah cair buatan. Manfaat dari penelitian ini adalah untuk mengembangkan teknologi pengolahan limbah yang sederhana dan handal. Variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah tinggi pasir terhadap laju alir pompa ke kolam penampung. Cara kerja dalam penelitian ini terdiri dari dua tahap yaitu pembuatan limbah sintetik dan analisa sampel. Dari hasil percobaan dapat disimpulkan bahwa semakin tinggi pasir yang digunakan maka semakin besar persen penurunan COD yang didapat dan semakin besar laju alir yang digunakan maka persen penurunan COD yang didapat akan semakin besar pula. Kata kunci: media biofilter pasir ; penurunan COD. Abstract High Performance Biofiltration concept is the last development from intermittent sand filter technology. Filtrtion is one of operation unit principal which is usually used at drinking water processing and to move a suspended solid from biological processing waste or coagulational waste. The aim of this research is to know the degradation of COD from sand biofiltration media and to know the contact time with COD degradation from sand biofiltration media with made solid waste. The benefit of this experiment is to develop simple and reliable waste treatment technology. The variables which is used in this experiment are high of sand filtration with flow rate pump to lagoon. This experiment contains two process which are making sintetic waste and sample analization. The results of this experiment are height of sand filtration which used to measure the COD is influencing the percent of COD degradation, and flow rate make influencing too with percent of COD degradation. Keywords: sand biofiltration media; COD degradation. 1. Pendahuluan Konsep High-Performance Biofiltration (HPB) adalah pengembangan terakhir dari teknologi intermittent sand filter (saringan pasir intermittent). Menurut dokumen US EPA (Environment Protection Agency = Badan Perlindungan Lingkungan AS) : "Intermittent sand filtration bukanlah teknologi baru dalam hal pengolahan air limbah." (Anderson, et al, 1985) Dilaporkan bahwa berbagai jenis sand-filtration telah digunakan untuk memurnikan air selama berabad-abad. Konsep intermittent sand filter modern lahir dari pengamatan yang dilakukan pada pertengahan 1800an terhadap "sewage farms"(daerah pembuangan limbah) di tanah berpasir. Air yang keluar dari drainase area ini dimana air limbah dibuang secara berkala menjadi termurnikan. Inilah yang menyebabkan sand-bed kemudian dipakai untuk pengolahan air limbah. Selama lebih dari 100 tahun terakhir banyak hal yang telah berhasil diketahui tentang teknologi intermittent sand-filter. Dalam 3 dekade terakhir teknologi ini telah dipelajari dan digunakan untuk mengatasi masalah pengolahan air limbah skala kecil. Hal ini dilaporkan dalam US EPA's Technology Assessment : "Intermittent sand filters sangat cocok untuk kawasan desa, perumahan kecil, rumah tunggal, maupun kawasan bisnis. Teknologi ini dapat mencapai level pengolahan air sampai tingkat sekunder bahkan tingkat tersier secara konsisten tanpa banyak perhatian." 2 Penyaringan merupakan salah satu prinsip unit operasi yang biasanya digunakan pada pengolahan air minum dan memindahkan padatan tersuspensi dari buangan pengolahan secara biologi atau buangan pengolahan secara koagulasi. Media saringan sangant penting dalam proses penyaringan. Faktor yang mempengaruhi penyaringan adalah kekeruhan dari buangan, tinggi lapisan penyaringan, kemudahan pencucian kembali dan ketinggian dan ketinggian resisten kimia.Pada penelitian ini media saringan yang digunakan adalah lapisan pasir dan kombinasi lapisan pasir dan lapisan "anthracite" , sementara cara "kaolin" dan "kaolin" koagulasi adalah menggunakan limbah cair buatan. Teknologi sand-filter dipilih untuk menangani sistem pengolahan air limbah skala kecil karena beroperasi secara handal dan bebas masalah seperti dilaporkan dalam EPA's Technology Assessment. Teknologi ini stabil dan hampir bebas dari risiko kegagalan. Secara umum teknologi ini dikategorikan sebagai "attached growth aerobic process" dan intermittent sand filter adalah salah satu versinya dimana beban yang dikenakan sangat kecil. Waktu tinggal sel yang lama adalah kunci kestabilan sistem ini. Selain itu sistem ini terdiri dari beragam jenis mikroba dan beberapa jenis makroba (Calaway, et al, 1955, Calaway, 1957). Karakteristik inilah yang membuat sistem ini tahan terhadap kejenuhan dan mampu mengakomodasi keadaan dimana air limbah yang masuk sangat tidak uniform. Penyebab utama kegagalan proses biofiltrasi adalah tersumbatnya filter bed. Ketika penyumbatan makin parah, terbentuklah penghalang yang menghalangi keluarnya air limbah melalui filter. Konsekuensinya adalah masuknya kembali air limbah ke dalam sistem. Bahkan ketika penyumbatan menyebabkan air limbah menggenang di atas permukaan pasir kondisi sangat parah kualitas effluent tidak akan turun drastis. Saat filter bed telah diperbaiki biasanya memerlukan waktu yang singkat karena tinggal disesuaikan dengan desain awal, proses akan segera kembali normal. Biasanya penyumbatan terbentuk pelan-pelan dalam hitungan tahun. (Anderson, et al, 1985) Masalah yang baru terjadi dapat dikenali dengan segera oleh operator dan bisa langsung dilakukan maintenance. Teknologi ini jelas berbeda dengan activated sludge (lumpur aktif) yang merupakan teknologi yang paling sering dipakai pada pengolahan air limbah skala kecil. Pengolahan limbah dengan lumpur aktif dipengaruhi oleh beberapa jenis mikroba aerobic yang tersuspensi dalam cairan dengan konsentrasi yang sangat tinggi, memerlukan aerasi aktif untuk menjamin mikrobanya tetap hidup. Keadaan cairan harus dikontrol dengan ketat, biasanya dengan mengeluarkan lumpur aktif beberapa jam atau akan terjadi kejenuhan dalam sistem. Karakteristik inilah yang menyebabkan sistem ini tidak stabil, memerlukan input energi secara konstan serta perhatian penuh untuk menjaga parameter operasi tetap sesuai yang disyaratkan. Selain itu, proses ini tidak mampu menangani air limbah yang tidak uniform, lagipula tidak ada teori yang sesuai untuk proses ini kecuali bila dianggap sebagai proses steady-state. Oleh karena tidak ada penghalang bagi aliran air sebelum keluar sistem, bila terjadi kegagalan operasi, effluent yang keluar akan langsung terpengaruh. Sekali terjadi kegagalan lumpur aktif memerlukan waktu yang cukup lama untuk dapat kembali beroperasi normal. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui penurunan COD pada media biofilter pasir dan untuk mengetahui lama kontak terhadap penurunan COD pada media biofilter pasir. 2. Bahan dan Metode Penelitian Variabel percobaan ada 2 yaitu variabel kendali : waktu sirkulasi 24 jam dan variabel berubah : tinggi pasir serta laju alir sirkulasi. Alat dan bahan yang digunakan adalah bak penampung, bak pemompa, pompa celup, tabung COD, erlenmeyer, gelas ukur, beaker glass, kompor listrik, termometer, busa. Bahan – bahan yang digunakan adalah : pasir, pati 50 gr, urea 10 gr, asam phospat 1 ml, K2Cr2O7 5 ml; FAS 37,42 ml; H2SO4 15 ml, indikator ferroin, aquadest. Sedangkan gambar rangkaian alat seperti dibawah ini. 3 Gambar 1 Rangkaian Alat Percobaan Sand Filtration Dalam penelitian ini, ada 2 langkah cara kerja yaitu: pembuatan limbah sintetik dan analisa sampel. Pembuatan limbah sintetik dilakukan dengan cara: Air 500 ml dipanaskan sampai hampir mendidih lalu ditambah 50 gr pati dan diaduk sampai hampir menjadi pasta. Pasta yang sudah terbentuk dijadikan 100 liter lalu ditambah urea 10 gr dan asam phospat 1 ml. Campuran tersebut dimasukkan dalam bak pemompa dan diambil 2 ml untuk dianalisa sebagai sampel influent. Campuran tersebut lalu disirkulasi selama seminggu. Analisa sampel dilakukan dengan cara: Setelah campuran disirkulasi selama seminggu, ambil 2 ml sampel untuk dianalisa sebagai sampel effluent. Sampel 2 ml tersebut ditambah K2Cr2O7 3 ml dan ditambah H2SO4 4 ml lalu dimasukkan dalam tabung COD. Campuran kemudian dioven pada suhu 170 °C selama 2 jam. Setelah dioven biarkan sampai dingin lalu ditetesi dengan indikator ferroin 3 tetes sampai warna menjadi kuning. Setelah itu dititrasi menggunakan FAS sampai warna menjadi orange dan catat kebutuhan titrasinya. Analisa sampel diulang lagi untuk variabel berikutnya. 3. Hasil dan Pembahasan Dari hasil percobaan didapat laju alir kecil = 750 ml/mnt dan laju alir besar = 1600 ml/mnt. Data hasil percobaan secara lengkap dapat dilihat pada tabel berikut: Tabel 1 Hasil Percobaan Laju Alir Kecil 750 ml/menit Besar 1600 ml/menit Tinggi Pasir Influent Effluent % Penurunan Influent Effluent % Penurunan 10 2618,91 mg/l 64,14 mg/l 97,55 2618,91 mg/l 24,05 mg/l 99,08 15 2618,91 mg/l 34,74 mg/l 98,67 2618,91 mg/l 29,40 mg/l 98,88 Dari hasil percobaan dapat dilihat bahwa tinggi pasir yang digunakan sebagai variabel untuk pengukuran COD berpengaruh terhadap persen penurunan COD. Semakin tinggi pasir yang digunakan maka semakin besar persen penurunan CODnya. Hal ini disebabkan karena mikroba yang terdapat dalam limbah mengalami kontak yang cukup lama dengan media biofilter pasir sehingga mempengaruhi persen CODnya. Jika semakin tinggi pasir yang digunakan maka waktu kontak antara mikroba dengan pasir menjadi semakin lama karena limbah akan sering mengalami sirkulasi. Hal ini mengakibatkan persen penurunan COD menjadi semakin besar. Berdasarkan hasil percobaan dapat dilihat bahwa laju alir juga berpengaruh terhadap persen penurunan COD. Dari data yang kami dapatkan laju alir besar didapatkan persen penurunan COD yang lebih besar dibanding laju alir kecil. Hal ini disebabkan karena variabel laju alir besar sering mengalami sirkulasi antara mikroba dengan pasir dibanding variabel laju alir kecil. Oleh karena seringnya kontak antara mikroba dengan pasir inilah yang mengakibatkan persen penurunan CODnya menjadi besar. Semakin besar laju alir yang digunakan maka waktu yang dibutuhkan untuk sirkulasi semakin cepat dan hal ini mengakibatkan persen penurunan CODnya akan mengalami kenaikan dibandingkan dengan variabel laju alir kecil. busa pasir bak pemompa bak penampung 4 4. Kesimpulan Semakin tinggi variabel pasir yang digunakan maka semakin besar persen penurunan CODnya. Semakin besar laju alir yang digunakan maka akan mendapatkan persen penurunan COD yang semakin besar pula. Ucapan Terima Kasih Dalam kesempatan ini penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada: 1. Bapak Ir. Sumarno, M.Si selaku dosen pembimbing penelitian. 2. Bapak Dr. Ir. Abdullah, MS selaku Ketua Jurusan Teknik Kimia Fakultas Teknik Universitas Diponegoro. Daftar Pustaka Pustaka yang berupa majalah/jurnal ilmiah/prosiding: Calaway, W.T. 1955. Intermittent Sand Filters Multiple Loadings. Sewage Works Journal, Vol. 21, No. 6:1002- 1015. Calaway, W.T. 1957. Intermittent Sand Filters and their Biology. Sewage Works Journal, Vol. 29, No. 1:1-5. Pustaka yang berupa judul buku : Anderson, D. L., R. L. Siegrist, and R. J. Otis. 1985. Technology Assessment of Intermittent Sand Filters, U.S. EPA, Office of Research and Development, Municipal Environmental Research Laboratory, Cincinnati.
1 MAKALAH
1
MAKALAH
TENTANG LIMBAH PADAT
Galih Pranowo
Jurusan Matematika Ilmu Komputer
FAKULTAS SAINS TERAPAN
INSTITUT SAINS & TEKNOLOGI AKPRIND
YOGYAKARTA
I. PENDAHULUAN
Pengelolaan lingkungan hidup merupakan kewajiban bersama berbagai pihak
baik pemerintah, pelaku industri, dan masyarakat luas. Hal ini menjadi lebih penting
lagi mengingat Indonesia sebagai negara yang perkembangan industrinya cukup
tinggi dan saat ini dapat dikategorikan sebagai negara semi industri (semi
industrialized country). Sebagaimana lazimnya negara yang masih berstatus semi
industri, target yang lebih diutamakan adalah peningkatan pertumbuhan output,
sementara perhatian terhadap eksternalitas negatif dari pertumbuhan industri tersebut
sangat kurang. Beberapa kasus pencemaran terhadap lingkungan telah menjadi topik
hangat di berbagai media masa, misalnya pencemaran Teluk Buyat di Sulawesi Utara
yang berdampak terhadap timbulnya bermacam penyakit yang menyerang penduduk
yang tinggal di sekitar teluk tersebut.
Para pelaku industri kadang mengesampingkan pengelolaan lingkungan yang
menghasilkan berbagai jenis-jenis limbah dan sampah. Limbah bagi lingkungan
hidup sangatlah tidak baik untuk kesehatan maupun kelangsungan kehidupan bagi
masyarakat umum, limbah padat yang di hasilkan oleh industri-industri sangat
merugikan bagi lingkungan umum jika limbah padat hasil dari industri tersebut tidak
diolah dengan baik untuk menjadikannya bermanfaat.
II. PENGERTIAN LIMBAH ATAU SAMPAH
Limbah atau sampah yaitu limbah atau kotoran yang dihasilkan karena
pembuangan sampah atau zat kimia dari pabrik-pabrik. Limbah atau sampah juga
2
merupakan suatu bahan yang tidak berarti dan tidak berharga, tapi kita tidak
mengetahui bahwa limbah juga bisa menjadi sesuatu yang berguna dan bermanfaat
jika diproses secara baik dan benar. Limbah atau sampah juga bisa berarti sesuatu
yang tidak berguna dan dibuang oleh kebanyakan orang, mereka menganggapnya
sebagai sesuatu yang tidak berguna dan jika dibiarkan terlalu lama maka akan
menyebabkan penyakit padahal dengan pengolahan sampah secara benar maka bisa
menjadikan sampah ini menjadi benda ekonomis.
III. DEFINISI LIMBAH PADAT
Limbah padat adalah hasil buangan industri yang berupa padatan, lumpur atau
bubur yang berasal dari suatu proses pengolahan. Limbah padat berasal dari kegiatan
industri dan domestik. Limbah domestik
pada umumnya berbentuk limbah padat rumah tangga, limbah padat kegiatan
perdagangan, perkantoran, peternakan, pertanian serta dari tempat-tempat umum.
Jenis-jenis limbah padat: kertas, kayu, kain, karet/kulit tiruan, plastik, metal,
gelas/kaca, organik, bakteri, kulit telur, dll
.
Sumber-sumber dari limbah padat sendiri meliputi seperti pabrik gula, pulp,
kertas, rayon, plywood, limbah nuklir, pengawetan buah, ikan, atau daging. Secara
garis besar limbah padat terdiri dari :
1) Limbah padat yang mudah terbakar.
2) Limbah padat yang sukar terbakar.
3) Limbah padat yang mudah membusuk.
4) Limbah yang dapat di daur ulang.
5) Limbah radioaktif.
6) Bongkaran bangunan.
7) Lumpur.
IV. DAMPAK PENCEMARAN LIMBAH PADAT
Limbah pasti akan berdampak negatif pada lingkungan hidup jika tidak ada
pengolahan yang baik dan benar, dengan adanya limbah padat didalam linkungan
hidup maka dapat menimbulkan pencemaran seperti :
1) Timbulnya gas beracun, seperti asam sulfida (H2S), amoniak (NH3), methan
3
(CH4), C02 dan sebagainya. Gas ini akan timbul jika limbah padat ditimbun
dan membusuk dikarena adanya mikroorganisme. Adanya musim hujan dan
kemarau, terjadi proses pemecahan bahan organik oleh bakteri penghancur
dalam suasana aerob/anaerob.
2) Dapat menimbulkan penurunan kualitas udara, dalam sampah yang ditumpuk,
akan terjadi reaksi kimia seperti gas H2S, NH3 dan methane yang jika
melebihi NAB (Nilai Ambang Batas) akan merugikan manusia. Gas H2S 50
ppm dapat mengakibatkan mabuk dan pusing.
3) Penurunan kualitas air, karena limbah padat biasanya langsung dibuang
dalam perairan atau bersama-sama air limbah. Maka akan dapat
menyebabkan air menjadi keruh dan rasa dari air pun berubah.
4) Kerusakan permukaan tanah.
Dari sebagian dampak-dampak limbah padat diatas, ada beberapa dampak
limbah yang lainnya yang ditinjau dari aspek yang berbeda secara umum. Dampak
limbah secara umum di tinjau dari dampak terhadap kesehatan dan terhadap
lingkungan adalah sebgai berikut :
1. Dampak Terhadap Kesehatan
Dampaknya yaitu dapat menyebabkan atau menimbulkan panyakit. Potensi
bahaya kesehatan yang dapat ditimbulkan adalah sebagai berikut:
a) Penyakit diare dan tikus, penyakit ini terjadi karena virus yang berasal
dari sampah dengan pengelolaan yang tidak tepat.
b) Penyakit kulit misalnya kudis dan kurap.
2. Dampak Terhadap Lingkungan
Cairan dari limbah – limbah yang masuk ke sungai akan mencemarkan airnya
sehingga mengandung virus-virus penyakit. Berbagai ikan dapat mati
sehingga mungkin lama kelamaan akan punah. Tidak jarang manusia juga
mengkonsumsi atau menggunakan air untuk kegiatan sehari-hari, sehingga
menusia akan terkena dampak limbah baik secara langsung maupun tidak
langsung. Selain mencemari, air lingkungan juga menimbulkan banjir karena
banyak orang-orang yang membuang limbah rumah tanggake sungai,
sehingga pintu air mampet dan pada waktu musim hujan air tidak dapat
4
mengalir dan air naik menggenangi rumah-rumah penduduk, sehingga dapat
meresahkan para penduduk.
V. PENGOLAHAN LIMBAH PADAT
Pengolahan limbah padat dapat dilakukan dengan berbagai cara yang
tentunya dapat menjadikan limbah tersebut tidak berdampak buruk bagi lingkungan
ataupun kesehatan. Menurut sifatnya pengolahan limbah padat dapat dibagi menjadi
dua cara yaitu pengolahan limbah padat tanpa pengolahan dan pengolahan limbah
padat dengan pengolahan.
Limbah padat tanpa pengolahan : Limbah padat yang tidak mengandung
unsur kimia yang beracun dan berbahaya dapat langsung dibuang ke tempat tertentu
sebagai TPA (Tempat Pembuangan Akhir). Limbah padat dengan pengolahan :
Limbah padat yang mengandung unsur kimia beracun dan berbahaya harus diolah
terlebih dahulu sebelum dibuang ke tempat-tempat tertentu.
Pengolahan limbah juga dapat dilakukan dengan cara-cara yang sedehana
lainnya misalnya, dengan cara mendaur ulang, Dijual kepasar loakatau tukang
rongsokan yang biasa lewat di depan rumah – rumah. Cara ini bisa menjadikan
limbah atau sampah yang semula bukan apa-apa sehingga bisa menjadi barang yang
ekonomis dan bisa menghasilkan uang. Dapat juga dijual kepada tetangga kita yang
menjadi tukang loak ataupun pemulung. Barang-barang yang dapat dijual antara lain
kertas-kertas bekas, koran bekas, majalah bekas, botol bekas, ban bekas, radio tua,
TV tua dan sepeda yang usang.
Dapat juga dengan cara pembakaran. Cara ini adalah cara yang paling mudah
untuk dilakukan karena tidak membutuhkan usaha keras. Cara ini bisa dilakukan
dengan cara membakar limbah-limbah padat misalnya kertas-kertas dengan
menggunakan minyak tanah lalu dinyalakan apinya. Kelebihan cara membakar ini
adalah mudah dan tidak membutuhkan usaha keras, membutuhkan tempat atau lokasi
yang cukup kecil dan dapat digunakan sebagai sumber energi baik untuk pembangkit
uap air panas, listrik dan pencairan logam.
5
Faktor – faktor yang perlu kita perhatikan sebelum kita mengolah limbah padat
tersebut adalah sebagai berikut :
1. Jumlah Limbah
Sedikit dapat dengan mudah kita tangani sendiri. Banyak dapat membutuhkan
penanganan khusus tempat dan sarana pembuangan.
2. Sifat fisik dan kimia limbah
Sifat fisik mempengaruhi pilihan tempat pembuangan, sarana penggankutan
dan pilihan pengolahannya. Sifat kimia dari limbah padat akan merusak dan
mencemari lingkungan dengan cara membentuk senyawa-senyawa baru.
3. Kemungkinan pencemaran dan kerusakan lingkungan.
Karena lingkungan ada yang peka atau tidak peka terhadap pencemaran,
maka perlu kita perhatikan tempat pembuangan akhir (TPA), unsur yang akan
terkena, dan tingkat pencemaran yang akan timbul.
4. Tujuan akhir dari pengolahan
Terdapat tujuan akhir dari pengolahan yaitu bersifat ekonomis dan bersifat
non-ekonomis. Tujuan pengolahan yang bersifat ekonomis adalah dengan
meningkatkan efisiensi pabrik secara menyeluruh dan mengambil kembali
bahan yang masih berguna untuk di daur ulang atau di manfaat lain.
Sedangkan tujuan pengolahan yang bersifat non-ekonomis adalah untuk
mencegah pencemaran dan kerusakan lingkungan.
6
Mekanisme Pengolahan Limbah
VI. PROSES PENGOLAHAN LIMBAH PADAT
Dalam memproses pengolahan limbah padat terdapat empat proses yaitu
pemisahan, penyusunan ukuran, pengomposan, dan pembuangan limbah.
1. Pemisahan
Karena limbah padat terdiri dari ukuran yang berbedan dan kandungan bahan
yang berbeda juga maka harus dipisahkan terlebih dahulu, supaya peralatan
pengolahan menjadi awet.
Sistem pemisahan ada tiga yaitu diantaranya :
Sistem Balistik. Adalah sistem pemisahan untuk mendapatkan keseragaman
ukuran / berat / volume.
Sistem Gravitasi. Adalah sistem pemisahan berdasarkan gaya berat misalnya
Bahan Baku
Sumber Daya Lingkungan
Industri
Produk
Limbah Beracun dan Berbahaya
Pengolahan Konsumen
Limbah
Pembuangan
Daur Ulang
Konsumen
Produk
Limbah Pengolahan
Pembuangan
Memenuhi
Syarat
7
barang yang ringan / terapung dan barang yang berat / tenggelam.
Sistem Magnetis. Adalah sistem pemisahan berdasarkan sifat magnet yang
bersifat agnet, akan langsung menempel. Misalnya untuk memisahkan
campuran logam dan non logam.
2. Penyusunan Ukuran
Penyusunan ukuran dilakukan untuk memperoleh ukuran yang lebih kecil
agar pengolahannya menjadi mudah.
3. Pengomposan
Pengomposan dilakukan terhadap buangan / limbah yang mudah membusuk,
sampah kota, buangan atau kotoran hewan ataupun juga pada lumpur pabrik.
Supaya hasil pengomposan baik, limbah padat harus dipisahkan dan
disamakan ukurannya atau volumenya.
4. Pembuangan Limbah
Proses akhir dari pengolahan limbah padat adalah pembuangan limbah yang
dibagi menjadi dua yaitu :
a) Pembuangan Di Laut
Pembuangan limbah padat di laut, tidak boleh dilakukan pada sembarang
tempat dan perlu diketahui bahwa tidak semua limbah padat dapat
dibuang ke laut. Hal ini disebabkan :
1. Laut sebagai tempat mencari ikan bagi nelayan.
2. Laut sebagai tempat rekreasi dan lalu lintas kapal.
3. Laut menjadi dangkal.
4. Limbah padat yang mengandung senyawa kimia beracun dan
berbahaya dapat membunuh biota laut.
b) Pembuangan Di Darat Atau Tanah
Untuk pembuangan di darat perlu dilakukan pemilihan lokasi yang harus
dipertimbangkan sebagai berikut :
1. Pengaruh iklim, temperatur dan angin.
2. Struktur tanah.
3. Jaraknya jauh dengan permukiman.
4. Pengaruh terhadat sumber lain, perkebunan, perikanan,
peternakan, flora atau fauna. Pilih lokasi yang benar-benar tidak
8
ekonomis lagi untuk kepentingan apapun.
VII. KESIMPULAN
Pada dasarnya limbah adalah sejenis kotoran yang berasal dari hasil
pembuangan dan itu mengakibatkan dampak bagi lingkungan di sekitar tetapi
sekarang banyak ditemukan cara atau solusi untuk menangani dampak-dampak yang
dihasilkan oleh limbah, meskipun demikian pada kenyataannya cara atau solusi
tersebut tidak ada hasilnya karena masih banyak pula kita jumpai limbah atau
sampah disungai dan didarat yang dapat pula menimbulkan banjir serta kerusakan
lingkungan lainnya.
MAKALAH
TENTANG LIMBAH PADAT
Galih Pranowo
Jurusan Matematika Ilmu Komputer
FAKULTAS SAINS TERAPAN
INSTITUT SAINS & TEKNOLOGI AKPRIND
YOGYAKARTA
I. PENDAHULUAN
Pengelolaan lingkungan hidup merupakan kewajiban bersama berbagai pihak
baik pemerintah, pelaku industri, dan masyarakat luas. Hal ini menjadi lebih penting
lagi mengingat Indonesia sebagai negara yang perkembangan industrinya cukup
tinggi dan saat ini dapat dikategorikan sebagai negara semi industri (semi
industrialized country). Sebagaimana lazimnya negara yang masih berstatus semi
industri, target yang lebih diutamakan adalah peningkatan pertumbuhan output,
sementara perhatian terhadap eksternalitas negatif dari pertumbuhan industri tersebut
sangat kurang. Beberapa kasus pencemaran terhadap lingkungan telah menjadi topik
hangat di berbagai media masa, misalnya pencemaran Teluk Buyat di Sulawesi Utara
yang berdampak terhadap timbulnya bermacam penyakit yang menyerang penduduk
yang tinggal di sekitar teluk tersebut.
Para pelaku industri kadang mengesampingkan pengelolaan lingkungan yang
menghasilkan berbagai jenis-jenis limbah dan sampah. Limbah bagi lingkungan
hidup sangatlah tidak baik untuk kesehatan maupun kelangsungan kehidupan bagi
masyarakat umum, limbah padat yang di hasilkan oleh industri-industri sangat
merugikan bagi lingkungan umum jika limbah padat hasil dari industri tersebut tidak
diolah dengan baik untuk menjadikannya bermanfaat.
II. PENGERTIAN LIMBAH ATAU SAMPAH
Limbah atau sampah yaitu limbah atau kotoran yang dihasilkan karena
pembuangan sampah atau zat kimia dari pabrik-pabrik. Limbah atau sampah juga
2
merupakan suatu bahan yang tidak berarti dan tidak berharga, tapi kita tidak
mengetahui bahwa limbah juga bisa menjadi sesuatu yang berguna dan bermanfaat
jika diproses secara baik dan benar. Limbah atau sampah juga bisa berarti sesuatu
yang tidak berguna dan dibuang oleh kebanyakan orang, mereka menganggapnya
sebagai sesuatu yang tidak berguna dan jika dibiarkan terlalu lama maka akan
menyebabkan penyakit padahal dengan pengolahan sampah secara benar maka bisa
menjadikan sampah ini menjadi benda ekonomis.
III. DEFINISI LIMBAH PADAT
Limbah padat adalah hasil buangan industri yang berupa padatan, lumpur atau
bubur yang berasal dari suatu proses pengolahan. Limbah padat berasal dari kegiatan
industri dan domestik. Limbah domestik
pada umumnya berbentuk limbah padat rumah tangga, limbah padat kegiatan
perdagangan, perkantoran, peternakan, pertanian serta dari tempat-tempat umum.
Jenis-jenis limbah padat: kertas, kayu, kain, karet/kulit tiruan, plastik, metal,
gelas/kaca, organik, bakteri, kulit telur, dll
.
Sumber-sumber dari limbah padat sendiri meliputi seperti pabrik gula, pulp,
kertas, rayon, plywood, limbah nuklir, pengawetan buah, ikan, atau daging. Secara
garis besar limbah padat terdiri dari :
1) Limbah padat yang mudah terbakar.
2) Limbah padat yang sukar terbakar.
3) Limbah padat yang mudah membusuk.
4) Limbah yang dapat di daur ulang.
5) Limbah radioaktif.
6) Bongkaran bangunan.
7) Lumpur.
IV. DAMPAK PENCEMARAN LIMBAH PADAT
Limbah pasti akan berdampak negatif pada lingkungan hidup jika tidak ada
pengolahan yang baik dan benar, dengan adanya limbah padat didalam linkungan
hidup maka dapat menimbulkan pencemaran seperti :
1) Timbulnya gas beracun, seperti asam sulfida (H2S), amoniak (NH3), methan
3
(CH4), C02 dan sebagainya. Gas ini akan timbul jika limbah padat ditimbun
dan membusuk dikarena adanya mikroorganisme. Adanya musim hujan dan
kemarau, terjadi proses pemecahan bahan organik oleh bakteri penghancur
dalam suasana aerob/anaerob.
2) Dapat menimbulkan penurunan kualitas udara, dalam sampah yang ditumpuk,
akan terjadi reaksi kimia seperti gas H2S, NH3 dan methane yang jika
melebihi NAB (Nilai Ambang Batas) akan merugikan manusia. Gas H2S 50
ppm dapat mengakibatkan mabuk dan pusing.
3) Penurunan kualitas air, karena limbah padat biasanya langsung dibuang
dalam perairan atau bersama-sama air limbah. Maka akan dapat
menyebabkan air menjadi keruh dan rasa dari air pun berubah.
4) Kerusakan permukaan tanah.
Dari sebagian dampak-dampak limbah padat diatas, ada beberapa dampak
limbah yang lainnya yang ditinjau dari aspek yang berbeda secara umum. Dampak
limbah secara umum di tinjau dari dampak terhadap kesehatan dan terhadap
lingkungan adalah sebgai berikut :
1. Dampak Terhadap Kesehatan
Dampaknya yaitu dapat menyebabkan atau menimbulkan panyakit. Potensi
bahaya kesehatan yang dapat ditimbulkan adalah sebagai berikut:
a) Penyakit diare dan tikus, penyakit ini terjadi karena virus yang berasal
dari sampah dengan pengelolaan yang tidak tepat.
b) Penyakit kulit misalnya kudis dan kurap.
2. Dampak Terhadap Lingkungan
Cairan dari limbah – limbah yang masuk ke sungai akan mencemarkan airnya
sehingga mengandung virus-virus penyakit. Berbagai ikan dapat mati
sehingga mungkin lama kelamaan akan punah. Tidak jarang manusia juga
mengkonsumsi atau menggunakan air untuk kegiatan sehari-hari, sehingga
menusia akan terkena dampak limbah baik secara langsung maupun tidak
langsung. Selain mencemari, air lingkungan juga menimbulkan banjir karena
banyak orang-orang yang membuang limbah rumah tanggake sungai,
sehingga pintu air mampet dan pada waktu musim hujan air tidak dapat
4
mengalir dan air naik menggenangi rumah-rumah penduduk, sehingga dapat
meresahkan para penduduk.
V. PENGOLAHAN LIMBAH PADAT
Pengolahan limbah padat dapat dilakukan dengan berbagai cara yang
tentunya dapat menjadikan limbah tersebut tidak berdampak buruk bagi lingkungan
ataupun kesehatan. Menurut sifatnya pengolahan limbah padat dapat dibagi menjadi
dua cara yaitu pengolahan limbah padat tanpa pengolahan dan pengolahan limbah
padat dengan pengolahan.
Limbah padat tanpa pengolahan : Limbah padat yang tidak mengandung
unsur kimia yang beracun dan berbahaya dapat langsung dibuang ke tempat tertentu
sebagai TPA (Tempat Pembuangan Akhir). Limbah padat dengan pengolahan :
Limbah padat yang mengandung unsur kimia beracun dan berbahaya harus diolah
terlebih dahulu sebelum dibuang ke tempat-tempat tertentu.
Pengolahan limbah juga dapat dilakukan dengan cara-cara yang sedehana
lainnya misalnya, dengan cara mendaur ulang, Dijual kepasar loakatau tukang
rongsokan yang biasa lewat di depan rumah – rumah. Cara ini bisa menjadikan
limbah atau sampah yang semula bukan apa-apa sehingga bisa menjadi barang yang
ekonomis dan bisa menghasilkan uang. Dapat juga dijual kepada tetangga kita yang
menjadi tukang loak ataupun pemulung. Barang-barang yang dapat dijual antara lain
kertas-kertas bekas, koran bekas, majalah bekas, botol bekas, ban bekas, radio tua,
TV tua dan sepeda yang usang.
Dapat juga dengan cara pembakaran. Cara ini adalah cara yang paling mudah
untuk dilakukan karena tidak membutuhkan usaha keras. Cara ini bisa dilakukan
dengan cara membakar limbah-limbah padat misalnya kertas-kertas dengan
menggunakan minyak tanah lalu dinyalakan apinya. Kelebihan cara membakar ini
adalah mudah dan tidak membutuhkan usaha keras, membutuhkan tempat atau lokasi
yang cukup kecil dan dapat digunakan sebagai sumber energi baik untuk pembangkit
uap air panas, listrik dan pencairan logam.
5
Faktor – faktor yang perlu kita perhatikan sebelum kita mengolah limbah padat
tersebut adalah sebagai berikut :
1. Jumlah Limbah
Sedikit dapat dengan mudah kita tangani sendiri. Banyak dapat membutuhkan
penanganan khusus tempat dan sarana pembuangan.
2. Sifat fisik dan kimia limbah
Sifat fisik mempengaruhi pilihan tempat pembuangan, sarana penggankutan
dan pilihan pengolahannya. Sifat kimia dari limbah padat akan merusak dan
mencemari lingkungan dengan cara membentuk senyawa-senyawa baru.
3. Kemungkinan pencemaran dan kerusakan lingkungan.
Karena lingkungan ada yang peka atau tidak peka terhadap pencemaran,
maka perlu kita perhatikan tempat pembuangan akhir (TPA), unsur yang akan
terkena, dan tingkat pencemaran yang akan timbul.
4. Tujuan akhir dari pengolahan
Terdapat tujuan akhir dari pengolahan yaitu bersifat ekonomis dan bersifat
non-ekonomis. Tujuan pengolahan yang bersifat ekonomis adalah dengan
meningkatkan efisiensi pabrik secara menyeluruh dan mengambil kembali
bahan yang masih berguna untuk di daur ulang atau di manfaat lain.
Sedangkan tujuan pengolahan yang bersifat non-ekonomis adalah untuk
mencegah pencemaran dan kerusakan lingkungan.
6
Mekanisme Pengolahan Limbah
VI. PROSES PENGOLAHAN LIMBAH PADAT
Dalam memproses pengolahan limbah padat terdapat empat proses yaitu
pemisahan, penyusunan ukuran, pengomposan, dan pembuangan limbah.
1. Pemisahan
Karena limbah padat terdiri dari ukuran yang berbedan dan kandungan bahan
yang berbeda juga maka harus dipisahkan terlebih dahulu, supaya peralatan
pengolahan menjadi awet.
Sistem pemisahan ada tiga yaitu diantaranya :
Sistem Balistik. Adalah sistem pemisahan untuk mendapatkan keseragaman
ukuran / berat / volume.
Sistem Gravitasi. Adalah sistem pemisahan berdasarkan gaya berat misalnya
Bahan Baku
Sumber Daya Lingkungan
Industri
Produk
Limbah Beracun dan Berbahaya
Pengolahan Konsumen
Limbah
Pembuangan
Daur Ulang
Konsumen
Produk
Limbah Pengolahan
Pembuangan
Memenuhi
Syarat
7
barang yang ringan / terapung dan barang yang berat / tenggelam.
Sistem Magnetis. Adalah sistem pemisahan berdasarkan sifat magnet yang
bersifat agnet, akan langsung menempel. Misalnya untuk memisahkan
campuran logam dan non logam.
2. Penyusunan Ukuran
Penyusunan ukuran dilakukan untuk memperoleh ukuran yang lebih kecil
agar pengolahannya menjadi mudah.
3. Pengomposan
Pengomposan dilakukan terhadap buangan / limbah yang mudah membusuk,
sampah kota, buangan atau kotoran hewan ataupun juga pada lumpur pabrik.
Supaya hasil pengomposan baik, limbah padat harus dipisahkan dan
disamakan ukurannya atau volumenya.
4. Pembuangan Limbah
Proses akhir dari pengolahan limbah padat adalah pembuangan limbah yang
dibagi menjadi dua yaitu :
a) Pembuangan Di Laut
Pembuangan limbah padat di laut, tidak boleh dilakukan pada sembarang
tempat dan perlu diketahui bahwa tidak semua limbah padat dapat
dibuang ke laut. Hal ini disebabkan :
1. Laut sebagai tempat mencari ikan bagi nelayan.
2. Laut sebagai tempat rekreasi dan lalu lintas kapal.
3. Laut menjadi dangkal.
4. Limbah padat yang mengandung senyawa kimia beracun dan
berbahaya dapat membunuh biota laut.
b) Pembuangan Di Darat Atau Tanah
Untuk pembuangan di darat perlu dilakukan pemilihan lokasi yang harus
dipertimbangkan sebagai berikut :
1. Pengaruh iklim, temperatur dan angin.
2. Struktur tanah.
3. Jaraknya jauh dengan permukiman.
4. Pengaruh terhadat sumber lain, perkebunan, perikanan,
peternakan, flora atau fauna. Pilih lokasi yang benar-benar tidak
8
ekonomis lagi untuk kepentingan apapun.
VII. KESIMPULAN
Pada dasarnya limbah adalah sejenis kotoran yang berasal dari hasil
pembuangan dan itu mengakibatkan dampak bagi lingkungan di sekitar tetapi
sekarang banyak ditemukan cara atau solusi untuk menangani dampak-dampak yang
dihasilkan oleh limbah, meskipun demikian pada kenyataannya cara atau solusi
tersebut tidak ada hasilnya karena masih banyak pula kita jumpai limbah atau
sampah disungai dan didarat yang dapat pula menimbulkan banjir serta kerusakan
lingkungan lainnya.
Selasa, 03 Agustus 2010
AMDAL
Latar belakang:
- Analisa mengenai dampak lingkungan lahir dengan diundangkanya undang- undang tentang lingkungan hidup di Amerika Serikat, yaitu National Environmental Policy Act (NEPA), pada tahun 1969
- Amdal merupakan suatu reaksi masyarakat terhadap kerusakan lingkungan yang disebabka oleh aktivitas manusia yang terutama disebabkan oleh pembangunan dan penggunaan teknologi yang berlebihan dan terkesan mengabaikan lingkungan.
Pengertian Amdal dan Andal:
- Analisa Dampak Lingkungan (ANDAL) adalah telaah secara cermat dan mendalam tentang dampak penting suatu kegiatan yang direncanakan.
- Analisa Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) adalah hasil studi mengenai dampak suatu kegiatan yang direncanakan terhadap lingkungan hidup,yang diperlukan bagi proses pengambilan keputusan,
- Selanjutnya AMDAL dirumuskan sebagai suatu analisis mengenai dampak lingkungan dari suatu proyek yang meliputi pekerjaan evaluais dan pendugaan dampak proyek dari bangunanya, prosesnya maupun system dari proyek terhadaplingungan yang berlanjut ke lingkungan hidup.
Mengapa diperlukan AMDAL?
- AMDAL harus dilakukan agar kualitas lingkungan tidak rusak karena adanya proyek- proyek pembangunan.
- AMDAL harus dilakukan untuk proyek yang akan dibangun karna undang- undang dan peraturan pemerintah menghenakinya.
Siapa yang harus melakukan AMDAL?
- Dengan dasar bahwa penybab timbulnya pencemaran lingkungan adalah kegiatan suatu proyek, maka harus dilakukan AMDAL dan pembiayaan adalah pemilik proyek.
- Tangung jawab pemilik proyek untuk menyelenggarakan AMDAL bukan berarti harus melakukan sendiri, pemilik proyek dapat menyerahkan studi AMDAL keada konsultanatau pihak lain atas dasar saran dari pemerintah.
Konsep AMDAL
- Secara formal berasal dari undang- undang (NEPA)
- Dalam UU ini AMDAL dimaksudkan sebagai alat untuk merencanakan tindakan preventive terhadap lingkngan yang mungkin akan ditimbulkan ole suatu aktivitas pembangunan yang sedang direncanakan.
- Juga didasarkan pada konsep ekologi yang mempelajari interaksi antara mahluk hidup dan lingkunganya.
- AMDAL merupakn bagianilmu ekologi pembangunan yang mempelajari hubungan timbale balik anatara pembangunan dan lingkungan.
Peraturan perundangan mengenai AMDAL
- UU No.4 Tahub 1982 Pasal 16 tentang Ketentuan Pokok Pengelolaan Lingkungan Hidup.
- Pelaksanaan diatur dengan PP No. 29 tahun 1986 selanjutnya diganti dengan PP No. 51 tahun 1993
- UU No. 23 Thun 1997 Tentang : Pengelolaan Lingkungan Hidup
Arti Dampak
- Dampak adalah suatu prubahan yang terjadi sebagai akibat dari suatu aktivitas.
Aktivitas dapat bersifat alami maupun yang dilakukan oleh manusia.
- Dampak pembangunan diartikan sebagai perubahan yang tidak direncanakan yang diakibatkan oleh aktivitas pembangunan.
- Dampak juga dapat diartikan sebagai adanya suatu benturan antara dua kepentingan, yaitu kepentingan pembangunan proyek dengan kepentingan usaha melestarikan kualitas lingkungan yang baik.
Usaha atau kegiatan yang dapat menimbulkan dampak besar dan penting
- Pengubahan bentuk lahan dan bentang alam
- Eksploitasi SDA baik yang diperbaharui maupun yang tidak
- Proses dan kegiatan yang hasilnya akan dapat mempengaruhi pelestarian kawasan konservasi SDA/ perlindngan cagar budaya
- Proses kegiatan yang secara potensial dapat menimbulkan pemborosan,pencemaran, dan kerusakan lingkungan hidup, serta kemerosotan SDA dalam pemanfaatannya
- Introduksi jenis tumbuhan, hewan, dan jenis jasad renik
- Pembuatan dan penggunaan bahan hayati dan non hayati
- Penerapan tenologi yang diperkirakan mempunyai potensi besar untuk mempengaruh lingkungan hidup
- Kegiatan yang mempunyai resiko tinggi
Kriteria mengenai dampak besar dan penting suatu usaha atau kegiatan
- Jumlah manusia yang aakn terkena dampak
- Luas wilayah persebaran dampak
- Intensitas dan lamannya dampak berlangsung
- Banyaknya komponen lainya yang terkena dampak
- Sifat komulatif dampak
- Berbalik atatu tidak berbaliknya dampak
Lingkungan Hidup
Lingkungan hidup adalah kesatuan ruang dengan semua benda, daya, keadaan dan mahluk hidup termasuk manusia dan perilakunya yang mempengaruhi kelangsungan kehidupan dan kesejahteraan manusia dan mahluk lainya
Komponen Lingkungan Hidup:
1. Lingkungan fisik(anorganik) ,lingkungan yang terdiri dari gaya kosmik dan fisiogeografis: tanah, udara, air, radiasi, gaya tarik, ombak dan sebagainya.
2. Lingkungan biologi(organic), segala sesuatu yang bersifat biotis
3. Lingkungan social, interaksi manusia dengan lingkungan
4. Lingkungan komposit, yaitu lingkungan yang diatur secara institusional, berupa lembaga- lembaga masyarakat
Sasaran Pengelolaan Lingkungan Hidup :
- Tercapainya keselarasan, keserasian, da keseimbangan antara manusia dan lingkungn hidup.
- Terwujudnya manusia sebagai insan lingkungan hidup yang memiliki sikap dan tindakan melindungi dan membina lingkungan hidup.
- Terjaminya kepentingan generasi masa kini dan masa depan.
- Tercapainya kelestarian fungsi lingkungan hidup.
- Terkendalinya pemanfaatn sumbar daya secara bijaksana.
- Terlindungnya Negara terhadap dampak usaha dan atau kegiatan diluar wilayah Negara yang menyebabkan pencemaran dan/atau perusakan lingkungan hidup.
MATERI AMDAL
Permasalahan Lingkungan
Berbagai masalah lingkungan
Permasalahan lingkungan didunia akhir- akhir ini ada 4:
- Pemanasan global
- Kerusakan ozon
- Keanekaragaman hayati
- Masalah perairan
Permasalah lingkungan di dunia berkembang
Setiap Negara mempunyai permasalahan lingkungan yang berbeda- beda
Secara umum permasalahan lingkungan di Negara berkembang yaitu:
o Pemanfaatan sumber daya alam yang melebihi daya recover- nya
o Pemanfaatan yang melebihi daya dukungnya
o Pencemaran lingkungan air, daratan, atsmosfer
o Masalah pertambahan penduduk yang menambah beban yang ditanggung lingkungan
Pertambahan yang cepat di Negara yang sedang membangun ini menyebabkan beberapa permasaahan lingkungan, yaitu:
- Proses urbanisasi akan terjadi sehingga menyebabkan persoalan udara,air, dan tanah diwilayah perkotaan serta limbah dan kepadatan lalu lintas
- Tekanan penduduk terhadap lahan akan semakin tinggi, akibatnya akan terjadi erosai dan sedimentasi
- Tekanan penduduk terhadap lingkungan hutan/lindung menyebabkan penurunan keanekaragaman hayati pada ekosistem hutan
Persoalan nilai lingkungan hidup
- Menjadi debat mengenai ekonomi lingkungan karma lingkungan mempunyai nilai ekonomi
- Para ekonom dituntut untuk memperhitungkan bagaimana nilai suatu lingkungan dan berapa nilai lingkungan seandainya terjadi kerusakan
- Sebagai contoh adalah nilai kebakaran hutan akibat tekanan penduduk untuk kegiatan pertanian, perkebunan, dan kegiatan penggunaan lainnya
Masalah lingkungan kegiatan pembangunan
- Menurut keputusan Menteri LH No. 17/2001 secara garis besar permasalahan lingkungan hidup bervariasi menurut sector dan besaran kegiatan proyeknya
- Meliputi bidang Ketahanan dan keamanan, pertanian, perikanan, kehutanan, kesehatan, perhubungan, teknologi satelit, perindustrian, prasarana wilayah, energi, dan sumber daya mineral, pariwisata, pengembangan nuklir, pengelolaan limbah bahan berbahaya dan beracun(B3), bidang rekayasa genetika
- Bidang kesehatan dan keamanan: aktivitas militer dengan skala yang berpotensi menimbulkan resiko lingkungan dengan terjadinya ledakan serta keresahan social, misal: pangkalan militer
- Pertanian: kegiatan petanian dalam kawasan budidaya kehutanan dan non- kawasan budidaya kehuatanan
- Kehutanan: pemanenan pohon dengan diameter tertentu berotensi merubah struktur dan komposisi tegakan satwa liar dan habitatnya
- Periakanan: kegiatan yang berpotensi menimbulkan dampak berupa penurunan kualitas air penurunan stabilitas garis pantai, potensi konflik social dan potensi limbah cair dan padat yang ditimbulkan
- Kesehatan: berpotensi menimbulkan dampak penting dalam bentuk limbah B3/ radioaktf dan potensi penularan penyakit, missal pembanguna rumah sakit
- Pehubungan: berpotensi menimbulkan dampak beruoa emisi, gangguan lalu- lintas, kebisingan, getaran, gangguan pandangan, ekologi dan dampak social, misal pembangunan stasiun KA, pelabuahan, relakmasi dan bandara udara
- Teknologi satelit: memerlukan lokasi khusus dan teknologi canggih, tertutup bagi masyarakat, misal pembangunan fasilitas peluncuran satelit
- Perindustrian: semua kegiatan industri dan besaranya seperti: industri semen, pupuk, besi, dll
- Prasarana wilayah: pembangunan waduk, DAS, pembanguna rawa/ reklamasi rawa,pembangunan pengaman pantai, pembanguna kanal, jalan tol, perumahan dalam skala besar
- Energi dan sumber daya mineral: dampak penting terhadap lingkungan seperti merubah bentang alam, ekologi dan hidrologi, misal kegiatan pertambangan, ketenag listrikan, minyak dan gas bumi
- Pariwisata: berpotensi menimbulkan dampak berupa gangguan lalu lintas, aksebilitas lalu lintas, pembebasan lahan dan sampah. Misal: taman rekreasi, kawasan wisata, hotel, lapangan golf
- Pengembangan nuklir: berpotensi dampak pengoprasian, keamanan konstruksi, beresiko tinggi, dampak radiasi pasca operasi dan transportasi penyimpana pembuangan nuklir
- Pengelolaan limbah bahan bebahaya dan beracun(B3): semua kgiatan yang bersifat jasa layanan, komersial, menetap dan mengelola berbagai jenids dan sifat limbah B3
- Bidang rekyasa genetika: intrduksidan budidaya produk bioteknologi hasil rekayasa genetika
- Analisa mengenai dampak lingkungan lahir dengan diundangkanya undang- undang tentang lingkungan hidup di Amerika Serikat, yaitu National Environmental Policy Act (NEPA), pada tahun 1969
- Amdal merupakan suatu reaksi masyarakat terhadap kerusakan lingkungan yang disebabka oleh aktivitas manusia yang terutama disebabkan oleh pembangunan dan penggunaan teknologi yang berlebihan dan terkesan mengabaikan lingkungan.
Pengertian Amdal dan Andal:
- Analisa Dampak Lingkungan (ANDAL) adalah telaah secara cermat dan mendalam tentang dampak penting suatu kegiatan yang direncanakan.
- Analisa Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) adalah hasil studi mengenai dampak suatu kegiatan yang direncanakan terhadap lingkungan hidup,yang diperlukan bagi proses pengambilan keputusan,
- Selanjutnya AMDAL dirumuskan sebagai suatu analisis mengenai dampak lingkungan dari suatu proyek yang meliputi pekerjaan evaluais dan pendugaan dampak proyek dari bangunanya, prosesnya maupun system dari proyek terhadaplingungan yang berlanjut ke lingkungan hidup.
Mengapa diperlukan AMDAL?
- AMDAL harus dilakukan agar kualitas lingkungan tidak rusak karena adanya proyek- proyek pembangunan.
- AMDAL harus dilakukan untuk proyek yang akan dibangun karna undang- undang dan peraturan pemerintah menghenakinya.
Siapa yang harus melakukan AMDAL?
- Dengan dasar bahwa penybab timbulnya pencemaran lingkungan adalah kegiatan suatu proyek, maka harus dilakukan AMDAL dan pembiayaan adalah pemilik proyek.
- Tangung jawab pemilik proyek untuk menyelenggarakan AMDAL bukan berarti harus melakukan sendiri, pemilik proyek dapat menyerahkan studi AMDAL keada konsultanatau pihak lain atas dasar saran dari pemerintah.
Konsep AMDAL
- Secara formal berasal dari undang- undang (NEPA)
- Dalam UU ini AMDAL dimaksudkan sebagai alat untuk merencanakan tindakan preventive terhadap lingkngan yang mungkin akan ditimbulkan ole suatu aktivitas pembangunan yang sedang direncanakan.
- Juga didasarkan pada konsep ekologi yang mempelajari interaksi antara mahluk hidup dan lingkunganya.
- AMDAL merupakn bagianilmu ekologi pembangunan yang mempelajari hubungan timbale balik anatara pembangunan dan lingkungan.
Peraturan perundangan mengenai AMDAL
- UU No.4 Tahub 1982 Pasal 16 tentang Ketentuan Pokok Pengelolaan Lingkungan Hidup.
- Pelaksanaan diatur dengan PP No. 29 tahun 1986 selanjutnya diganti dengan PP No. 51 tahun 1993
- UU No. 23 Thun 1997 Tentang : Pengelolaan Lingkungan Hidup
Arti Dampak
- Dampak adalah suatu prubahan yang terjadi sebagai akibat dari suatu aktivitas.
Aktivitas dapat bersifat alami maupun yang dilakukan oleh manusia.
- Dampak pembangunan diartikan sebagai perubahan yang tidak direncanakan yang diakibatkan oleh aktivitas pembangunan.
- Dampak juga dapat diartikan sebagai adanya suatu benturan antara dua kepentingan, yaitu kepentingan pembangunan proyek dengan kepentingan usaha melestarikan kualitas lingkungan yang baik.
Usaha atau kegiatan yang dapat menimbulkan dampak besar dan penting
- Pengubahan bentuk lahan dan bentang alam
- Eksploitasi SDA baik yang diperbaharui maupun yang tidak
- Proses dan kegiatan yang hasilnya akan dapat mempengaruhi pelestarian kawasan konservasi SDA/ perlindngan cagar budaya
- Proses kegiatan yang secara potensial dapat menimbulkan pemborosan,pencemaran, dan kerusakan lingkungan hidup, serta kemerosotan SDA dalam pemanfaatannya
- Introduksi jenis tumbuhan, hewan, dan jenis jasad renik
- Pembuatan dan penggunaan bahan hayati dan non hayati
- Penerapan tenologi yang diperkirakan mempunyai potensi besar untuk mempengaruh lingkungan hidup
- Kegiatan yang mempunyai resiko tinggi
Kriteria mengenai dampak besar dan penting suatu usaha atau kegiatan
- Jumlah manusia yang aakn terkena dampak
- Luas wilayah persebaran dampak
- Intensitas dan lamannya dampak berlangsung
- Banyaknya komponen lainya yang terkena dampak
- Sifat komulatif dampak
- Berbalik atatu tidak berbaliknya dampak
Lingkungan Hidup
Lingkungan hidup adalah kesatuan ruang dengan semua benda, daya, keadaan dan mahluk hidup termasuk manusia dan perilakunya yang mempengaruhi kelangsungan kehidupan dan kesejahteraan manusia dan mahluk lainya
Komponen Lingkungan Hidup:
1. Lingkungan fisik(anorganik) ,lingkungan yang terdiri dari gaya kosmik dan fisiogeografis: tanah, udara, air, radiasi, gaya tarik, ombak dan sebagainya.
2. Lingkungan biologi(organic), segala sesuatu yang bersifat biotis
3. Lingkungan social, interaksi manusia dengan lingkungan
4. Lingkungan komposit, yaitu lingkungan yang diatur secara institusional, berupa lembaga- lembaga masyarakat
Sasaran Pengelolaan Lingkungan Hidup :
- Tercapainya keselarasan, keserasian, da keseimbangan antara manusia dan lingkungn hidup.
- Terwujudnya manusia sebagai insan lingkungan hidup yang memiliki sikap dan tindakan melindungi dan membina lingkungan hidup.
- Terjaminya kepentingan generasi masa kini dan masa depan.
- Tercapainya kelestarian fungsi lingkungan hidup.
- Terkendalinya pemanfaatn sumbar daya secara bijaksana.
- Terlindungnya Negara terhadap dampak usaha dan atau kegiatan diluar wilayah Negara yang menyebabkan pencemaran dan/atau perusakan lingkungan hidup.
MATERI AMDAL
Permasalahan Lingkungan
Berbagai masalah lingkungan
Permasalahan lingkungan didunia akhir- akhir ini ada 4:
- Pemanasan global
- Kerusakan ozon
- Keanekaragaman hayati
- Masalah perairan
Permasalah lingkungan di dunia berkembang
Setiap Negara mempunyai permasalahan lingkungan yang berbeda- beda
Secara umum permasalahan lingkungan di Negara berkembang yaitu:
o Pemanfaatan sumber daya alam yang melebihi daya recover- nya
o Pemanfaatan yang melebihi daya dukungnya
o Pencemaran lingkungan air, daratan, atsmosfer
o Masalah pertambahan penduduk yang menambah beban yang ditanggung lingkungan
Pertambahan yang cepat di Negara yang sedang membangun ini menyebabkan beberapa permasaahan lingkungan, yaitu:
- Proses urbanisasi akan terjadi sehingga menyebabkan persoalan udara,air, dan tanah diwilayah perkotaan serta limbah dan kepadatan lalu lintas
- Tekanan penduduk terhadap lahan akan semakin tinggi, akibatnya akan terjadi erosai dan sedimentasi
- Tekanan penduduk terhadap lingkungan hutan/lindung menyebabkan penurunan keanekaragaman hayati pada ekosistem hutan
Persoalan nilai lingkungan hidup
- Menjadi debat mengenai ekonomi lingkungan karma lingkungan mempunyai nilai ekonomi
- Para ekonom dituntut untuk memperhitungkan bagaimana nilai suatu lingkungan dan berapa nilai lingkungan seandainya terjadi kerusakan
- Sebagai contoh adalah nilai kebakaran hutan akibat tekanan penduduk untuk kegiatan pertanian, perkebunan, dan kegiatan penggunaan lainnya
Masalah lingkungan kegiatan pembangunan
- Menurut keputusan Menteri LH No. 17/2001 secara garis besar permasalahan lingkungan hidup bervariasi menurut sector dan besaran kegiatan proyeknya
- Meliputi bidang Ketahanan dan keamanan, pertanian, perikanan, kehutanan, kesehatan, perhubungan, teknologi satelit, perindustrian, prasarana wilayah, energi, dan sumber daya mineral, pariwisata, pengembangan nuklir, pengelolaan limbah bahan berbahaya dan beracun(B3), bidang rekayasa genetika
- Bidang kesehatan dan keamanan: aktivitas militer dengan skala yang berpotensi menimbulkan resiko lingkungan dengan terjadinya ledakan serta keresahan social, misal: pangkalan militer
- Pertanian: kegiatan petanian dalam kawasan budidaya kehutanan dan non- kawasan budidaya kehuatanan
- Kehutanan: pemanenan pohon dengan diameter tertentu berotensi merubah struktur dan komposisi tegakan satwa liar dan habitatnya
- Periakanan: kegiatan yang berpotensi menimbulkan dampak berupa penurunan kualitas air penurunan stabilitas garis pantai, potensi konflik social dan potensi limbah cair dan padat yang ditimbulkan
- Kesehatan: berpotensi menimbulkan dampak penting dalam bentuk limbah B3/ radioaktf dan potensi penularan penyakit, missal pembanguna rumah sakit
- Pehubungan: berpotensi menimbulkan dampak beruoa emisi, gangguan lalu- lintas, kebisingan, getaran, gangguan pandangan, ekologi dan dampak social, misal pembangunan stasiun KA, pelabuahan, relakmasi dan bandara udara
- Teknologi satelit: memerlukan lokasi khusus dan teknologi canggih, tertutup bagi masyarakat, misal pembangunan fasilitas peluncuran satelit
- Perindustrian: semua kegiatan industri dan besaranya seperti: industri semen, pupuk, besi, dll
- Prasarana wilayah: pembangunan waduk, DAS, pembanguna rawa/ reklamasi rawa,pembangunan pengaman pantai, pembanguna kanal, jalan tol, perumahan dalam skala besar
- Energi dan sumber daya mineral: dampak penting terhadap lingkungan seperti merubah bentang alam, ekologi dan hidrologi, misal kegiatan pertambangan, ketenag listrikan, minyak dan gas bumi
- Pariwisata: berpotensi menimbulkan dampak berupa gangguan lalu lintas, aksebilitas lalu lintas, pembebasan lahan dan sampah. Misal: taman rekreasi, kawasan wisata, hotel, lapangan golf
- Pengembangan nuklir: berpotensi dampak pengoprasian, keamanan konstruksi, beresiko tinggi, dampak radiasi pasca operasi dan transportasi penyimpana pembuangan nuklir
- Pengelolaan limbah bahan bebahaya dan beracun(B3): semua kgiatan yang bersifat jasa layanan, komersial, menetap dan mengelola berbagai jenids dan sifat limbah B3
- Bidang rekyasa genetika: intrduksidan budidaya produk bioteknologi hasil rekayasa genetika
Wastewater Treatment
mbah adalah bahan sisa dari suatu aktivitas atau proses yang sudah tidak memiliki nilai ekonomi lagi (tidak dibutuhkan atau tidak dapat digunakan lagi). Limbah dapat berasal dari aktivitas biologi makhluk hidup, industri perakitan, industri pengolahan suatu bahan, sisa-sisa penggunaan suatu barang, dan lain-lain. Limbah yang dihasilkan dari industri kimia biasanya mengandung senyawa-senyawa berbahaya yang dapat merusak keseimbangan ekosistem perairan. Hal tersebut dikarenakan bahan baku maupun sisa-sisa hasil produksi pada industri kimia tidak dapat diuraikan oleh mikrobiologi dan cenderung bersifat beracun, sehingga diperlukan penanganan khusus untuk bahan-bahan tertentu. Penanganan tersebut dapat berupa pengolahan primer, sekunder maupun tersier. Dalam penelitian ini yang dikaji adalah limbah pewarna tekstil, dimana penanganannya memerlukan pengolahan secara tersier, dengan menggunakan metode Advanced Oxidation Process dengan UV/H2O2.
Tujuan penelitian ini adalah mengkaji kemungkinan pengolahan limbah pewarna tekstil non-biodegradable dengan proses H2O2/UV di dalam bubble column photoreactor, mencari pengaruh kondisi operasi seperti konsentrasi H2O2 dan pH serta waktu tinggal limbah dalam reaktor) terhadap warna, pH, dan BOD/COD dari limbah hasil pengolahan. Manfaat penelitian ini adalah meningkatkan kualitas air buangan dari limbah industri tekstil, memberikan tambahan pengetahuan tentang pengolahan limbah tekstil, memberikan alternatif baru dari pengolahan limbah tekstil .
Penelitian yang dilakukan hanya meliputi percobaan pendahuluan dan percobaan utama yaitu pengolahan limbah dengan 4 variasi konsentrasi H2O2 pada rentang 0,05 – 2 % w/w dan 3 variasi pH, yaitu 3, 8 dan 10. Penelitian ini merupakan penelitian pendahuluan untuk mengetahui model yang tepat untuk kebergantungan laju penguraian limbah terhadap kedua variabel. Model tersebut dipakai sebagai dasar untuk menentukan desain eksperimen yang disebut response...
Tujuan penelitian ini adalah mengkaji kemungkinan pengolahan limbah pewarna tekstil non-biodegradable dengan proses H2O2/UV di dalam bubble column photoreactor, mencari pengaruh kondisi operasi seperti konsentrasi H2O2 dan pH serta waktu tinggal limbah dalam reaktor) terhadap warna, pH, dan BOD/COD dari limbah hasil pengolahan. Manfaat penelitian ini adalah meningkatkan kualitas air buangan dari limbah industri tekstil, memberikan tambahan pengetahuan tentang pengolahan limbah tekstil, memberikan alternatif baru dari pengolahan limbah tekstil .
Penelitian yang dilakukan hanya meliputi percobaan pendahuluan dan percobaan utama yaitu pengolahan limbah dengan 4 variasi konsentrasi H2O2 pada rentang 0,05 – 2 % w/w dan 3 variasi pH, yaitu 3, 8 dan 10. Penelitian ini merupakan penelitian pendahuluan untuk mengetahui model yang tepat untuk kebergantungan laju penguraian limbah terhadap kedua variabel. Model tersebut dipakai sebagai dasar untuk menentukan desain eksperimen yang disebut response...
Pemisahan Total dalam Campuran Binary Granular: Solusi Pengolahan Limbah
Pemisahan Total dalam Campuran Binary Granular: Solusi Pengolahan Limbah
Disiplin fisika murni dapat melakukan setidaknya dua hal: pembuatan produk untuk tujuan aplikasi, atau penemuan efek-efek baru kemudian dijelaskan dengan teori fisika yang sudah ada. Dr. Sparisoma Viridi, Departemen Fisika Institut Teknologi Bandung, berhasil menemukan fenomena baru berupa osilasi dan pemisahan total pada campuran partikel binary granular. Dengan alat yang ada sampai saat ini, pemisahan komponen-komponen limbah tidak dapat dilakukan secara optimum, efek pemisahan total hasil dari penelitian Sparisoma Viridi, menjawab tantangan ini.
Penelitian ini dilakukan bersama Malte Schmick dan Mario Markus, dan merupakan proyek disertasi Sparisoma saat menempuh pendidikan S3 di Max-Planck-Institut fur molekulare Physiologie, Jerman. Deutsche Forschungsgemeinschaft dan Deutscher Akademischer Austausch Dienst (DAAD) adalah pihak yang mendukung terselenggaranya penelitian ini.
Penelitian Sparisoma berhasil menemukan secara eksperimental dua macam fenomena: osilasi, dan pemisahan partikel secara total (full segregation) dalam sistem terkompartemen. Sebelumnya, fenomena ini hanya berhasil diprediksi melalui kalkulasi atau simulasi.
Riset untuk eksperimen ini dimulai pada 2004. Eksperimen dimulai pada awal 2005, tidak lama setelahnya, ditemukan efek Kacang Brazil (Brazil Nut effect). Pada pertengahan 2005, hasil eksperimen dikumpulkan untuk pertama kali. Setelah melakukan beberapa perbaikan dan revisi, hasil eksperimen disetujui, kemudian dipublikasikan pada Oktober 2006.
Solusi Pengolahan Limbah
Efek pemisahan total merupakan kontribusi yang sangat penting dalam pengolahan limbah, contohnya dalam pengolahan sampah elektronik. Dengan metode yang ada saat ini (rotating drums, rotating boxes, horizontal shaking, vertical shaking, dan pembakaran), limbah elektronik seperti tembaga, plastik, dan platina belum dapat dipisahkan secara optimal. Selain itu, komponen tertentu seperti plastik dapat hancur pada pembakaran. Hal- hal ini menyebabkan komponen limbah tidak dapat secara optimal dimanfaatkan ulang (recycle) untuk tujuan baru.
Eksplorasi dan penelitian lebih lanjut dalam bidang ini merupakan hal yang menjanjikan dikarenakan beberapa alasan: (1) jumlah partikel yang dilibatkan tidak banyak, (2) prinsip fisika yang digunakan relatif mudah, hanya mekanika Newton, (3) masih banyak pertanyaan yang belum terjawab, seperti kemunculan efek Kacang Brazil dan kaitannya dengan parameter sistem.
Disiplin fisika murni dapat melakukan setidaknya dua hal: pembuatan produk untuk tujuan aplikasi, atau penemuan efek-efek baru kemudian dijelaskan dengan teori fisika yang sudah ada. Dr. Sparisoma Viridi, Departemen Fisika Institut Teknologi Bandung, berhasil menemukan fenomena baru berupa osilasi dan pemisahan total pada campuran partikel binary granular. Dengan alat yang ada sampai saat ini, pemisahan komponen-komponen limbah tidak dapat dilakukan secara optimum, efek pemisahan total hasil dari penelitian Sparisoma Viridi, menjawab tantangan ini.
Penelitian ini dilakukan bersama Malte Schmick dan Mario Markus, dan merupakan proyek disertasi Sparisoma saat menempuh pendidikan S3 di Max-Planck-Institut fur molekulare Physiologie, Jerman. Deutsche Forschungsgemeinschaft dan Deutscher Akademischer Austausch Dienst (DAAD) adalah pihak yang mendukung terselenggaranya penelitian ini.
Penelitian Sparisoma berhasil menemukan secara eksperimental dua macam fenomena: osilasi, dan pemisahan partikel secara total (full segregation) dalam sistem terkompartemen. Sebelumnya, fenomena ini hanya berhasil diprediksi melalui kalkulasi atau simulasi.
Riset untuk eksperimen ini dimulai pada 2004. Eksperimen dimulai pada awal 2005, tidak lama setelahnya, ditemukan efek Kacang Brazil (Brazil Nut effect). Pada pertengahan 2005, hasil eksperimen dikumpulkan untuk pertama kali. Setelah melakukan beberapa perbaikan dan revisi, hasil eksperimen disetujui, kemudian dipublikasikan pada Oktober 2006.
Solusi Pengolahan Limbah
Efek pemisahan total merupakan kontribusi yang sangat penting dalam pengolahan limbah, contohnya dalam pengolahan sampah elektronik. Dengan metode yang ada saat ini (rotating drums, rotating boxes, horizontal shaking, vertical shaking, dan pembakaran), limbah elektronik seperti tembaga, plastik, dan platina belum dapat dipisahkan secara optimal. Selain itu, komponen tertentu seperti plastik dapat hancur pada pembakaran. Hal- hal ini menyebabkan komponen limbah tidak dapat secara optimal dimanfaatkan ulang (recycle) untuk tujuan baru.
Eksplorasi dan penelitian lebih lanjut dalam bidang ini merupakan hal yang menjanjikan dikarenakan beberapa alasan: (1) jumlah partikel yang dilibatkan tidak banyak, (2) prinsip fisika yang digunakan relatif mudah, hanya mekanika Newton, (3) masih banyak pertanyaan yang belum terjawab, seperti kemunculan efek Kacang Brazil dan kaitannya dengan parameter sistem.
Senin, 02 Agustus 2010
Oxium Dalam Plastik Ramah lingkungan
Oxium Dalam Plastik Ramah lingkungan
Mempercepat Degradasi Plastik
Zat adiktif, Oxium, dapat mempercepat terjadinya proses degradasi plastik dalam waktu kurang lebih dua tahun sehingga mendukung pengurangan kerusakan lingkungan yang sudah semakin parah.
Oxium membuat plastik menjadi ramah lingkungan dan tidak berbahaya bagi manusia sehingga menjadi solusi aman dan bijak untuk lingkungan. Oxium diproduksi oleh PT Tirta Marta dengan teknologi proses yang dirancang oleh Sumber Daya Manusia(SDM) Indonesia dan merupakan adiktif plastik ramah lingkungan yang pertama di Indonesia.
Sebagian besar masyarakat Indonesia masih menjadikan plastik sebagai bahan kemasan favorit karena keistimewaan yang dimiliki dan tidak ada pada bahan kemasan lain seperti kertas atau kaca.
Saat ini yang harus dilakukan adalah mempercepat terjadinya proses penguraian plastik, yang awalnya membutuhkan waktu ribuan tahun menjadi lebih singkat dengan hanya beberapa tahun saja. Oxium telah mendapatkan Green Label dari Indonesia Solid Waste Association (INSWA) sebuah lembaga yang bergerak dalam masalah sampah dan lingkungan yang bersih.
Plastik berasal dari jasad renik (mikroorganisme) dari tumbuhan laut yang mati dan mengendap di dasar bumi sehingga berdasarkan teori organik yang dikemukakan oleh ilmuwan Engker (1911) proses pelapukan dan penguraian secara anaerob dalam batuan berpori akan mentransformasi jasad-jasad renik tersebut menjadi minyak bumi yang menjadi bahan dasar plastik.
Masalah plastik memang menjadi sebuah permasalahan yang sering diungkapkan dalam berbagai macam diskusi tentang lingkungan. Jenis plastik biasa baru bisa terdegradasi sampai 1.000 tahun sehingga dapat menyebabkan tanah longsor, polusi dari pembakaran plastik, dan banjir sedangkan Oxium tidak berakibat berbahaya bagi lingkungan dan manusia. Oxium telah digunakan sebagai tas berbelanja oleh banyak pasar modern di Indonesia seperti Carrefour, Indomaret, Alfamart, Hero, Ginat, dan Gramedia
Bahan plastik yang menggunakan petrolim sangat sulit terdegradasi dan jika menggunakan bahan kandungan hayati bisa lebih mudah terdegradasi seperti dari bahan singkong.Sampai saat ini hal itu masih dalam tahap penelitian dan belum dikomersialkan. Di dunia industri negara-negara maju penggunaan plastik yang dapat terdegradasi dalam waktu yang cepat masih belum bisa dipasarkan secara murah seperti penjualan plastik di pasar tradisional.Saat ini 70 persen plastik di pasaran digunakan sebagai pengemas seperti pembungkus makanan atau benda-benda lainnya sehingga masyarakat menjadi terbiasa menggunakan plastik.Pada saat ini di beberapa negara di seluruh dunia sedang melakukan kampanye agar tidak menggunakan plastik karena sangat berbahaya bagi lingkungan seperti Singapura yang mencoba mengurangi kerusakan lingkungan dengan menghimbau masyarakatnya untuk tidak menggunakan plastik.
Indomaret Menggunakannya
Kini Indomaret menggunakan kantong plastik ramah lingkungan guna menekan jumlah kantong plastik yang mencemari lingkungan dan mengganggu kesehatan. Penggunaan kantong plastik ramah lingkungan oxium (oxi degradable) yang mudah terurai (degradable) telah dimulai secara bertahap di Indomaret sejak bulan Juli 2009. Program ini merupakan komitmen Indomaret menjaga kelestarian alam dan mendukung program pemerintah dengan dikeluarkannya UU Nomor 18 tahun 2008 tentang pengelolaan sampah.
Kantong plastik oxium terbuat dari campuran zat degradable dimana plastik akan hancur dalam kurun 2 tahun. Periode kehancurannya tergantung dari panas dan kelembaban penyimpanannya serta berlaku untuk semua jenis ketebalan plastik. Sementara bahan dasar minyak bumi akan mengalami proses peleburan yang sangat lama.
Indomaret sebagai tempat yang menjual kebutuhan pokok dan sehari-hari setiap bulan membutuhkan kantong plastik rata-rata 48 kg per toko. Dengan jumlah toko mencapai 3.624 dibutuhkan 173.952 kg per bulan. Kebutuhan tersebut akan terus meningkat seiring dengan perkembangan toko. Oleh karena itu sebagai pengganti pemakaian kantong plastik konvensional dengan plastik degradable sangat mendesak dan tidak dapat ditunda-tunda lagi. Bukan saja akan membantu mengurangi penggunaan minyak bumi, gas alam dan sumber alam lainnya, upaya ini wujud nyata dari upaya menyelamatkan lingkungan.
Di beberapa toko ritel, mulai bisa dijumpai kantong plastik yang ramah lingkungan. Atau menjual kantong belanja berbahan kain. Ada juga toko yang menjual satu kantong plastik ukuran layar televisi 21 inchi dengan harga lebih dari 10 ribu rupiah.
Sebetulnya ada dua macam, ada bio-degradable dan oxium. Bio-degradable ini dibuat dari singkong. Singkong kan banyak di Indonesia. Kalau yang oxium ini ada penambahan oksidasi sehingga terurai lebih cepat. Indomaret pakai oxium, Century oxium, Kemchick pakai yang dari singkong ya. Di sini kan ditulis ada yang 1000 tahun, ada yang 500 tahun, tapi yang ini bisa 24 bulan, berarti kan 2 tahun.
Kehadiran kantong plastik ramah lingkungan diyakini bisa ikut mendidik masyarakat untuk mengurangi penggunanaan plastik. Di negara-negara maju seperti Jepang dan Eropa disediakan dropping box tempat mengumpulkan kemasan-kemasan plastik yang sudah tidak terpakai. Tapi belum di Indonesia, yang memilah sampah pun belum dilakukan secara serius.
Plastik

Istilah plastik mencakup produk polimerisasi sintetik atau semi-sintetik. Mereka terbentuk dari kondensasi organik atau penambahan polimer dan bisa juga terdiri dari zat lain untuk meningkatkan performa atau ekonomi. Ada beberapa polimer alami yang termasuk plastik. Plastik dapt dibentuk menjadi film atau fiber sintetik. Nama ini berasal dari fakta bahwa banyak dari mereka “malleable”, memiliki properti keplastikan. Plastik didesain dengan varias yang sangat banyak dalam properti yang dapat menoleransi panas, keras, “reliency” dan lain-lain. Digabungkan dengan kemampuan adaptasinya, komposisi yang umum dan beratnya yang ringan memastikan plastik digunakan hampir di seluruh bidang industri.
Plastik dapat juga menuju ke setiap barang yang memiliki karakter yang deformasi atau gagal karena shear stress- lihat keplastikan (fisika) dan ductile.
Plastik dapat dikategorisasikan dengan banyak cara tapi paling umum dengan melihat tulang-belakang polimernya (vinyl{chloride}, polyethylene, acrylic, silicone, urethane, dll.). Klasifikasi lainnya juga umum.
Plastik adalah polimer; rantai-panjang atom mengikat satu sama lain. Rantai ini membentuk banyak unit molekul berulang, atau “monomer”. Plastik yang umum terdiri dari polimer karbon saja atau dengan oksigen, nitrogen, chlorine atau belerang di tulang belakang. (beberapa minat komersial juga berdasar silikon). Tulang-belakang adalah bagian dari rantai di jalur utama yang menghubungkan unit monomer menjadi kesatuan. Untuk mengeset properti plastik grup molekuler berlainan “bergantung” dari tulang-belakang (biasanya “digantung” sebagai bagian dari monomer sebelum menyambungkan monomer bersama untuk membentuk rantai polimer). Pengesetan ini oleh grup “pendant” telah membuat plastik menjadi bagian tak terpisahkan di kehidupan abad 21 dengan memperbaiki properti dari polimer tersebut.
Pengembangan plastik berasal dari penggunaan material alami (seperti: permen karet, “shellac”) sampai ke material alami yang dimodifikasi secara kimia (seperti: karet alami, “nitrocellulose”) dan akhirnya ke molekul buatan-manusia (seperti: epoxy, polyvinyl chloride, polyethylene).
PENGANTAR KESEHATAN LINGKUNGAN
PENGANTAR KESEHATAN LINGKUNGAN
HYGIENE
USAHA KESEHATAN PREVENTIF ATAU PENYEGAHAN PENYAKIT YANG MENITIK BERATKAN KEGIATANNYA BAIK PADA USAHA KESEHATAN PERORANGAN MAUPUN KEPADA USAHA KESEHATAN LINGKUNGAN FISIK DIMANA ORANG BERADA. ( Drs. Soebagio Reksosoebroto,1990 )
SANITATION
THE CONTROL OF ALL THOSE FACTORS IN MAN’S PHYSICAL ENVIROMENT WHICH EXERCISE OR MAY EXERCISE A DELETERIOUS EFFECT ON HIS PHYSICAL DEVELOPMENT, HEALTH, SURVIVAL. ( W.H.O., 1965 )
KESEHATAN-SEHAT
• ADALAH SUATU KEADAAN KESEMPURNAAN FISIK, MENTAL DAN SOSIAL YANG TIDAK HANYA BEBAS DARI PENYAKIT ATAU KELEMAHAN. (WHO)
• ADALAH KEADAAN SEJAHTERA BADAN, JIWA DAN SOSIAL YANG MEMUNGKINKAN SETIAP ORANG HIDUP PRODUKTIF SECARA SOSIAL DAN EKONOMI.
LINGKUNGAN
• LINGKUNGAN : MEDIA
1.ATMOSFER
2. HIDROSFER
3.LITHOSFER
4. BIOSFER
5. SOSIOSFER
• LINGKUNGAN MIKRO
• LINGKUNGAN MESO
• LINGKUNGAN MAKRO
Hubungan Host Agent Environment ( The Epidemiologi Triangle)
• Sehat : keadaan seimbang antara host, agent dan lingkungan tidak berubah
• Sakit, bila :
1. Agent meningkat
2. Daya tahan tubuhmenurun
3. Lingkungan berubah
KESEHATAN LINGKUNGAN
Adalah ILMU & SENI dalam mencapai KESEIMBANGAN KESELARASAN KESERASIAN lingkungan hidup melalui upaya PENGEMBANGAN BUDAYA PERILAKU SEHAT dan PENGELOLAAN LINGKUNGAN sehingga dicapai kondisi yang BERSIH, AMAN, NYAMAN, SEHAT dan SEJAHTERA terhindar dari gangguan PENYAKIT, PENCEMARAN dan KECELAKAAN, sesuai dengan HARKAT dan MARTABAT manusia Bogor. ( SS.210894 )
KESEHATAN LINGKUNGAN
• KESEIMBANGAN EKOLOGIS YANG HARUS ADA ANTARA MANUSIA DAN LINGKUNGANNYA AGAR DAPAT MENJAMIN KEADAAN SEHAT DARI MANUSIA SECARA UTUH TIDAK HANYA KESEHATAN SECARA FISIK TETAPI JUGA KESEHATAN MENTAL DAN SOSIAL DENGAN LINGKUNGANNYA (WHO)
• ENVIRONMENTAL HEALTH
ENVIRONMENTAL HEALTH IS THAT ASPECT OF PUBLIC HEALTH THAT IS CONCERNED WITH THOSE FROM OF LIVE, SUBSTANCES, FORCES AND CONDITIONER IN THE SURROUNDINGS OF MAN WAY EXERT AN INFLUENCE OF HUMAN HEALTH WELL BEING (W.PURDOM)
HUBUNGAN MANUSIA DAN LINGKUNGAN
Ruang lingkup perhatian ilmu kesehatan lingkungan
• Penyediaan air, khususnya yang menyangkut persediaan jumlah serta mutu dari air tersebut.
• Pengelolaan air bekas dan pengelolaan pencemaran terhadap air, termasuk masalah pengumpulan, pembersihan dan pembuangan air bekas dari rumah tangga dan sampah lain yang dibawa air, serta kontrol terhadap kwalitas air permukaan dan air tanah.
• Pengelolaan sampah padat.
• Kontrol vektor, termasuk anthropoda, binatang mengerat
• Pencegahan dan pengontrolan pencemaran tanah oleh kotoran manusia atau substansi lain yang berpengaruh buruk terhadap kehidupan manusia hewan dan tumbuhan.
• Sanitasi makanan dan susu.
• Pengotoran udara.
• Kontrol terhadap radiasi.
• Kesehatan kerja terutama pengaruh buruk dari faktor fisik, kimia dan biologis.
• Kontrol terhadap kebisingan.
• Perumahan dan lingkungan sekitar terutama aspek kesehatan masyarakat pada tempat pemukiman umum ataupun gedung-gedung.
• Perencanaan kota dan regional.
• Pencegahan terhadap kecelakaan.
• Aspek kesehatan lingkungan dari udara laut dan transportasi.
• Tempat rekreasi dan tourisme, aspek kesehatan lingkungan dari pantai, kolam renang tempat berkemah dan lain sebagainya.
• Tindakan sanitasi yang dihubungkan dengan epidemi. keadaan darurat (seperti banjir dan sebagainya) serta imigrasi penduduk.
• Tindakan pencegahan lain yang dibutuhkan untuk meyakinkan bahwa lingkungan telah bebas dari bahaya yang dapat mengancam kesehatan.
Ruang lingkup kesehatan lingkungan (WHO)
• Masalah air .
• Masalah barang/benda sisa/bekas seperti air limbah, sampah, tinja.
• Masalah makanan dan minuman.
• Masalah perumahan dan bangunan.
• Masalah pencemaran terhadap udara, tanah dan air.
• Masalah pengawasan arthropoda dan rodentia.
• Masalah kesehatan kerja.
PRINSIP-2 PENGENDALIAN PENYAKIT GANGG KESEH
• PENGOBATAN MEDIS-> KURATIF &REHAB
• IMUNISASI
• PENINGKATAN VITALITAS FISIK
• PENGENDALIAN LINGKUNGAN
PENGENDALIAN LINGKUNGAN
• ISOLASI -> PEMISAHAN DNG JARAK TTT
• SUBSTITUSI-> MENGGANTI BAHAN
• SHEILDING-> PELINDUNG
• TREATMENT-> PERAWATAN/PENGOLAHAN
• PENCEGAHAN
TREATMENT
• DESTRUKSI-> BINASAKAN KESELURUHAN SUMB.BIOLOGIS.
• KONVERSI -> GANTI B3-> <<< BAHAYA
• REMOVAL-> MEMBERSIHKAN DARI KOTORAN.
• INHIBISI-> MENGHAMBAT PERTUMBUHAN BAKTERI
• PENCEGAHAN-> MENCEGAH TERJADINYA PENYAKIT.
MASALAH2 KES.LING DAN DAMPAKNYA THD KESMAS(WHO)
• RATUSA JUTA ORANG MENDERITA PENYAKIT SAL.PERNAFASAN AKIBAT POLUSI UDARA DI DALM DAN LUAR RUMAH
• RATUSAN JUTA ORANG TERPAJAN PADA GANGGUAN FISIK MAUPUN KIMIAWI DI TEMPAT KERJA ATAU LINGKUNGAN (TERMASUK 0,5 JUTA MENINGGAL AKIBAT KECELAKAAN LALIN)
• 4 JUTA ANAK DAN BAYI MATI /TAHUN AKIBAT PENYAKIT DIARE, PD UMUMNYA PENCEMARAN MAKMIN DAN AIR MINUM.
• RATUSAN JUTA ORANG MENDERITA AKIBAT INFESTASI PARASIT YANG MELEMAHKAN.
• DUA JUTA ORG MENINGGAL AKIBAT MALARIA SETIAP TAHUN DAN 267 JUTA ORG SAKIT MALARIA
• TIGA JUTA ORG MENINGGAL AKIBAT TBC/TAHUN DAN 20 JUTA MENGALAMI INFEKSI AKTIF TBC.
• RATUSAN JUTA MENDERITA KURANG GIZI.
Sebagian besar masalah kesehatan berada di luar sektor kesehatan
Oleh karenanya dalam pembangunan kesehatan, perlu upaya untuk:
• Meminimalkan underlying causes, yaitu berbagai penyebab tak langsung (pendidikan, perumahan, dan lain-lain)
• Menangani cause of the the causes, yaitu penyebab fundamental (masalah sosial ekonomi, budaya dan lingkungan)
MASALAH KESEHATAN LINGKUNGAN (SURKESNAS)
• Fisik rumah (lantai 85 , 3 % > 8 m2) ; lantai tanah 17,6 %.;
• ventilasi 84,9 %; cahaya ckp 85,4 %.
• Sanitasi dasar ( sumber air terlindung 75 %;)
• jamban leher angsa 62 %. Cemplung 19,7 %, tidak pakai 7 %.
• Spal 25 % tertutp; 45,5 terbuka; 29,4 % tanpa saluran )
• Peng. Sampah 44 % Dibakar; ditimbun 10,5 %, dibuang ke sungai 7,2 %, sembarangan 9,3 %.
• Sumber penerangan PLN 83,4 %; Listrik non PLN 3 %, petromak 2,5 %; pelita 10,0 % lainnya 0,6 %.
• Bahan Bakar (listrik 2,9 %Gas 8,2 %; M.Tanah 43,2 %; Arang Batu bara 0,3 %, Kayu bakar 43,2 %, tidak memasak 1,2 %)
PENGERTIAN KOTA-KAB. SEHAT
• Kota yang terus menerus berupaya meningkatkan kualitas lingkungan fisik dan sosialnya melalui pemberdayaan potensi masyarakat dengan memaksimalkan seluruh potensi kehidupan baik secara bersama-sama maupun mandiri, sehingga dapat mewujudkan masyarakat yang berperilaku sehat hidup di lingkungan yang aman, nyaman sehat.
• Kabupaten sehat adalah kesatuan wilayah administrasi pemerintah yang terdiri dari desa/kelurahan yang masyarakatnya secara terus menerus berupaya meningkatkan kemampuan masyarakat untuk hidup sehat yang didukung oleh lingkungan , prasarana wilayah akses, pelayanan sosial, ekonomi dan kesehatan yang memadai, sehingga dapat mewujudkan masyarakat yang berperilaku sehat yang hidup dilingkungan yang aman, nyaman sehat.
MODEL KOTA/KAB SEHAT
KOTA SEHAT
a. Lingkungan yang sehat. terciptanya udara yg bersih, PAM
b. Prasarana kota yang aman dan Sehat.-> Ruang kota serasi
c. Perilaku hidup sehat-> meniadakan perilaku tdk sehat
d. Kehidupan sosial yang sehat->JPKM, penanggulangan anjal
e. Kawasan Industri yang sehat-> Industri aman & tdk polusi
f. Kawasan Pariwisata yang sehat> akomodasi& mkn aman
g. Pengembangan pendidikan yang berwawasan kesehatan.
KABUAPTEN SEHAT.
a. Lingkungan yang sehat.
b. Prasarana Kab/Kec/desa yang aman dan sehat.
c. Kehidupan sosial yang sehat.
d. Tersedianya pelayanan kesehatan sesuai dengan kebutuhan
e. Kesediaan pangan dan jaminan gizi
INDIKATOR KOTA/KAB.SEHAT
• Untuk melihat dan mengukur kemajuan kegiatan dibutuhkan indikator sehingga semua pihak yang ikut terlibat dapat menilai sendiri kemajuan yang sudah dilakukan dan menjadi tolok ukur untuk merencanakan kegiatan selanjutnya.
• Setiap daerah dapat memilih sesuai kemampuannya.
• Indikator: proses dan out put.
Contoh Indikator
• Indikator Proses
Adanya penyusunan rencana peningkatan gerakan kota/kab.sehat dibagian tsb dan perluasan ke wilayah lain dalam kota/kab.tab
• Indikator Hasil
Tersusunnya pelaksanaan peningkatan gerakan kota/Kab.dan desa/kel.sehat dibagian lain kota itu serta upaya peningkatannya di wil. Yg sudah ada kegiatannya.
• Indikator out put (contoh)
Fisik,
Udara Bersih
1. Ada dan dilaksanakan
2. Ventilasi memadai
3. Baku mutu emisi kendaraan
4. Monitoring baku mutu emisi kend.bermotor
5. Baku mutu Udara
6. Penggunaan unleaded bensin(tanpa Pb).
Penyediaan Air Bersih
1. Pengadaan air minum perpipaan
2. Rumah dng air bersih
3. Rumah dng air minum PAM
4. Air tdk tercemar Coli tinja.
NON FISIK
Perilaku Td Sehat
1. Kel./desa dengan kegiatan anti rokok, narkotik, penanggulangan kekerasan dan kenakalan remaja.
2. Penurunan kasus narkotika dan penggunaan obat-obatan terlarang.
JPKM
1. Adanya pendekatan JPKM yang dikordinir masyarakat.
2. Adanya JPKM yang mempunyai badan hukum.
HYGIENE
USAHA KESEHATAN PREVENTIF ATAU PENYEGAHAN PENYAKIT YANG MENITIK BERATKAN KEGIATANNYA BAIK PADA USAHA KESEHATAN PERORANGAN MAUPUN KEPADA USAHA KESEHATAN LINGKUNGAN FISIK DIMANA ORANG BERADA. ( Drs. Soebagio Reksosoebroto,1990 )
SANITATION
THE CONTROL OF ALL THOSE FACTORS IN MAN’S PHYSICAL ENVIROMENT WHICH EXERCISE OR MAY EXERCISE A DELETERIOUS EFFECT ON HIS PHYSICAL DEVELOPMENT, HEALTH, SURVIVAL. ( W.H.O., 1965 )
KESEHATAN-SEHAT
• ADALAH SUATU KEADAAN KESEMPURNAAN FISIK, MENTAL DAN SOSIAL YANG TIDAK HANYA BEBAS DARI PENYAKIT ATAU KELEMAHAN. (WHO)
• ADALAH KEADAAN SEJAHTERA BADAN, JIWA DAN SOSIAL YANG MEMUNGKINKAN SETIAP ORANG HIDUP PRODUKTIF SECARA SOSIAL DAN EKONOMI.
LINGKUNGAN
• LINGKUNGAN : MEDIA
1.ATMOSFER
2. HIDROSFER
3.LITHOSFER
4. BIOSFER
5. SOSIOSFER
• LINGKUNGAN MIKRO
• LINGKUNGAN MESO
• LINGKUNGAN MAKRO
Hubungan Host Agent Environment ( The Epidemiologi Triangle)
• Sehat : keadaan seimbang antara host, agent dan lingkungan tidak berubah
• Sakit, bila :
1. Agent meningkat
2. Daya tahan tubuhmenurun
3. Lingkungan berubah
KESEHATAN LINGKUNGAN
Adalah ILMU & SENI dalam mencapai KESEIMBANGAN KESELARASAN KESERASIAN lingkungan hidup melalui upaya PENGEMBANGAN BUDAYA PERILAKU SEHAT dan PENGELOLAAN LINGKUNGAN sehingga dicapai kondisi yang BERSIH, AMAN, NYAMAN, SEHAT dan SEJAHTERA terhindar dari gangguan PENYAKIT, PENCEMARAN dan KECELAKAAN, sesuai dengan HARKAT dan MARTABAT manusia Bogor. ( SS.210894 )
KESEHATAN LINGKUNGAN
• KESEIMBANGAN EKOLOGIS YANG HARUS ADA ANTARA MANUSIA DAN LINGKUNGANNYA AGAR DAPAT MENJAMIN KEADAAN SEHAT DARI MANUSIA SECARA UTUH TIDAK HANYA KESEHATAN SECARA FISIK TETAPI JUGA KESEHATAN MENTAL DAN SOSIAL DENGAN LINGKUNGANNYA (WHO)
• ENVIRONMENTAL HEALTH
ENVIRONMENTAL HEALTH IS THAT ASPECT OF PUBLIC HEALTH THAT IS CONCERNED WITH THOSE FROM OF LIVE, SUBSTANCES, FORCES AND CONDITIONER IN THE SURROUNDINGS OF MAN WAY EXERT AN INFLUENCE OF HUMAN HEALTH WELL BEING (W.PURDOM)
HUBUNGAN MANUSIA DAN LINGKUNGAN
Ruang lingkup perhatian ilmu kesehatan lingkungan
• Penyediaan air, khususnya yang menyangkut persediaan jumlah serta mutu dari air tersebut.
• Pengelolaan air bekas dan pengelolaan pencemaran terhadap air, termasuk masalah pengumpulan, pembersihan dan pembuangan air bekas dari rumah tangga dan sampah lain yang dibawa air, serta kontrol terhadap kwalitas air permukaan dan air tanah.
• Pengelolaan sampah padat.
• Kontrol vektor, termasuk anthropoda, binatang mengerat
• Pencegahan dan pengontrolan pencemaran tanah oleh kotoran manusia atau substansi lain yang berpengaruh buruk terhadap kehidupan manusia hewan dan tumbuhan.
• Sanitasi makanan dan susu.
• Pengotoran udara.
• Kontrol terhadap radiasi.
• Kesehatan kerja terutama pengaruh buruk dari faktor fisik, kimia dan biologis.
• Kontrol terhadap kebisingan.
• Perumahan dan lingkungan sekitar terutama aspek kesehatan masyarakat pada tempat pemukiman umum ataupun gedung-gedung.
• Perencanaan kota dan regional.
• Pencegahan terhadap kecelakaan.
• Aspek kesehatan lingkungan dari udara laut dan transportasi.
• Tempat rekreasi dan tourisme, aspek kesehatan lingkungan dari pantai, kolam renang tempat berkemah dan lain sebagainya.
• Tindakan sanitasi yang dihubungkan dengan epidemi. keadaan darurat (seperti banjir dan sebagainya) serta imigrasi penduduk.
• Tindakan pencegahan lain yang dibutuhkan untuk meyakinkan bahwa lingkungan telah bebas dari bahaya yang dapat mengancam kesehatan.
Ruang lingkup kesehatan lingkungan (WHO)
• Masalah air .
• Masalah barang/benda sisa/bekas seperti air limbah, sampah, tinja.
• Masalah makanan dan minuman.
• Masalah perumahan dan bangunan.
• Masalah pencemaran terhadap udara, tanah dan air.
• Masalah pengawasan arthropoda dan rodentia.
• Masalah kesehatan kerja.
PRINSIP-2 PENGENDALIAN PENYAKIT GANGG KESEH
• PENGOBATAN MEDIS-> KURATIF &REHAB
• IMUNISASI
• PENINGKATAN VITALITAS FISIK
• PENGENDALIAN LINGKUNGAN
PENGENDALIAN LINGKUNGAN
• ISOLASI -> PEMISAHAN DNG JARAK TTT
• SUBSTITUSI-> MENGGANTI BAHAN
• SHEILDING-> PELINDUNG
• TREATMENT-> PERAWATAN/PENGOLAHAN
• PENCEGAHAN
TREATMENT
• DESTRUKSI-> BINASAKAN KESELURUHAN SUMB.BIOLOGIS.
• KONVERSI -> GANTI B3-> <<< BAHAYA
• REMOVAL-> MEMBERSIHKAN DARI KOTORAN.
• INHIBISI-> MENGHAMBAT PERTUMBUHAN BAKTERI
• PENCEGAHAN-> MENCEGAH TERJADINYA PENYAKIT.
MASALAH2 KES.LING DAN DAMPAKNYA THD KESMAS(WHO)
• RATUSA JUTA ORANG MENDERITA PENYAKIT SAL.PERNAFASAN AKIBAT POLUSI UDARA DI DALM DAN LUAR RUMAH
• RATUSAN JUTA ORANG TERPAJAN PADA GANGGUAN FISIK MAUPUN KIMIAWI DI TEMPAT KERJA ATAU LINGKUNGAN (TERMASUK 0,5 JUTA MENINGGAL AKIBAT KECELAKAAN LALIN)
• 4 JUTA ANAK DAN BAYI MATI /TAHUN AKIBAT PENYAKIT DIARE, PD UMUMNYA PENCEMARAN MAKMIN DAN AIR MINUM.
• RATUSAN JUTA ORANG MENDERITA AKIBAT INFESTASI PARASIT YANG MELEMAHKAN.
• DUA JUTA ORG MENINGGAL AKIBAT MALARIA SETIAP TAHUN DAN 267 JUTA ORG SAKIT MALARIA
• TIGA JUTA ORG MENINGGAL AKIBAT TBC/TAHUN DAN 20 JUTA MENGALAMI INFEKSI AKTIF TBC.
• RATUSAN JUTA MENDERITA KURANG GIZI.
Sebagian besar masalah kesehatan berada di luar sektor kesehatan
Oleh karenanya dalam pembangunan kesehatan, perlu upaya untuk:
• Meminimalkan underlying causes, yaitu berbagai penyebab tak langsung (pendidikan, perumahan, dan lain-lain)
• Menangani cause of the the causes, yaitu penyebab fundamental (masalah sosial ekonomi, budaya dan lingkungan)
MASALAH KESEHATAN LINGKUNGAN (SURKESNAS)
• Fisik rumah (lantai 85 , 3 % > 8 m2) ; lantai tanah 17,6 %.;
• ventilasi 84,9 %; cahaya ckp 85,4 %.
• Sanitasi dasar ( sumber air terlindung 75 %;)
• jamban leher angsa 62 %. Cemplung 19,7 %, tidak pakai 7 %.
• Spal 25 % tertutp; 45,5 terbuka; 29,4 % tanpa saluran )
• Peng. Sampah 44 % Dibakar; ditimbun 10,5 %, dibuang ke sungai 7,2 %, sembarangan 9,3 %.
• Sumber penerangan PLN 83,4 %; Listrik non PLN 3 %, petromak 2,5 %; pelita 10,0 % lainnya 0,6 %.
• Bahan Bakar (listrik 2,9 %Gas 8,2 %; M.Tanah 43,2 %; Arang Batu bara 0,3 %, Kayu bakar 43,2 %, tidak memasak 1,2 %)
PENGERTIAN KOTA-KAB. SEHAT
• Kota yang terus menerus berupaya meningkatkan kualitas lingkungan fisik dan sosialnya melalui pemberdayaan potensi masyarakat dengan memaksimalkan seluruh potensi kehidupan baik secara bersama-sama maupun mandiri, sehingga dapat mewujudkan masyarakat yang berperilaku sehat hidup di lingkungan yang aman, nyaman sehat.
• Kabupaten sehat adalah kesatuan wilayah administrasi pemerintah yang terdiri dari desa/kelurahan yang masyarakatnya secara terus menerus berupaya meningkatkan kemampuan masyarakat untuk hidup sehat yang didukung oleh lingkungan , prasarana wilayah akses, pelayanan sosial, ekonomi dan kesehatan yang memadai, sehingga dapat mewujudkan masyarakat yang berperilaku sehat yang hidup dilingkungan yang aman, nyaman sehat.
MODEL KOTA/KAB SEHAT
KOTA SEHAT
a. Lingkungan yang sehat. terciptanya udara yg bersih, PAM
b. Prasarana kota yang aman dan Sehat.-> Ruang kota serasi
c. Perilaku hidup sehat-> meniadakan perilaku tdk sehat
d. Kehidupan sosial yang sehat->JPKM, penanggulangan anjal
e. Kawasan Industri yang sehat-> Industri aman & tdk polusi
f. Kawasan Pariwisata yang sehat> akomodasi& mkn aman
g. Pengembangan pendidikan yang berwawasan kesehatan.
KABUAPTEN SEHAT.
a. Lingkungan yang sehat.
b. Prasarana Kab/Kec/desa yang aman dan sehat.
c. Kehidupan sosial yang sehat.
d. Tersedianya pelayanan kesehatan sesuai dengan kebutuhan
e. Kesediaan pangan dan jaminan gizi
INDIKATOR KOTA/KAB.SEHAT
• Untuk melihat dan mengukur kemajuan kegiatan dibutuhkan indikator sehingga semua pihak yang ikut terlibat dapat menilai sendiri kemajuan yang sudah dilakukan dan menjadi tolok ukur untuk merencanakan kegiatan selanjutnya.
• Setiap daerah dapat memilih sesuai kemampuannya.
• Indikator: proses dan out put.
Contoh Indikator
• Indikator Proses
Adanya penyusunan rencana peningkatan gerakan kota/kab.sehat dibagian tsb dan perluasan ke wilayah lain dalam kota/kab.tab
• Indikator Hasil
Tersusunnya pelaksanaan peningkatan gerakan kota/Kab.dan desa/kel.sehat dibagian lain kota itu serta upaya peningkatannya di wil. Yg sudah ada kegiatannya.
• Indikator out put (contoh)
Fisik,
Udara Bersih
1. Ada dan dilaksanakan
2. Ventilasi memadai
3. Baku mutu emisi kendaraan
4. Monitoring baku mutu emisi kend.bermotor
5. Baku mutu Udara
6. Penggunaan unleaded bensin(tanpa Pb).
Penyediaan Air Bersih
1. Pengadaan air minum perpipaan
2. Rumah dng air bersih
3. Rumah dng air minum PAM
4. Air tdk tercemar Coli tinja.
NON FISIK
Perilaku Td Sehat
1. Kel./desa dengan kegiatan anti rokok, narkotik, penanggulangan kekerasan dan kenakalan remaja.
2. Penurunan kasus narkotika dan penggunaan obat-obatan terlarang.
JPKM
1. Adanya pendekatan JPKM yang dikordinir masyarakat.
2. Adanya JPKM yang mempunyai badan hukum.
jidul KTI kesehatan lingkungan
| NIM | Nama | Judul Penelitian |
| 0113126101 | Made Dwi Wahyuni | Studi Kualitas Pantai di Kawasan Peralihan Hutan Mangrove di Teluk Terima, Kecamatan Gerokgak Kabupaten Buleleng |
| 0113126104 | I Gede Suarjana | Hubungan Antara Pengetahuan, Sikap dan Perilaku Penduduk Dalam Pengelolaan dan Pengendalian Pencemaran Air Tukad Badung |
| 0113126107 | A.A.S. Putri Risa Andriani | Kondisi Lingkungan Mangrove Pada Zona Pemanfaatan Taman Nasional Bali Barat di Teluk Terima dengan Adanya Pengembangan Pariwisata |
| 0113126108 | Ida Ayu Dewi Putri Ary | Pengaruh alh Fungsi Lahan Sempadan Pantai Terhadap Karakteristik dan Keanekaragaman Flora dan Fauna di Kawasan Pantai Brawah, Kuta dan Kedonganan |
| 0113126109 | I Dewa Gede Putra Amarta | Studi Kualitas Air Kolam Udang Galah ( Macrobacium Rosenbergii ) di Desa Pering Kecamatan Blahbatuh Kabupaten Gianyar, Bali |
| 0113126112 | Ni Made Armadi | Kajian Daerah Instrusi air Laut Pada Kawasan Pariwisata Sanur, Kecamatan Denpasar Selatan, Kota Denpasar |
| 0113126113 | Made Adi Widyatmika | Kualitas Air Sumur Gali di Sekitar Aliran Sungai Badung, Denpasar Bali |
| 0113126115 | Ida Bagus Gede Puja Atmaja | Studi Karakteristik dan Potensi Daur Ulang Sampah Rumah Tangga Meilihan Teknologi Pengelolaan Sampah di Kota Denpasar |
| 0113126117 | Wayan Suradnya | Studi Potensi dan Upaya Pelestarian Kawasan Hutan Mangrove di Nusa Lembongan |
| 0113126119 | I Wayan Suparta | Kajian Kota Denpasar Studi Kasus Saluran Drainase Sistem IV Kota Denpasar |
| 0113126120 | Rambat Sakwan | Dimensi Lingkungan Sosial Konsolidasi Tanah di Subak Serosogan Kelurahan Padang Sambian, Kecamatan Denpasar Barat, Kota Denpasar |
| 0213126101 | I Ketut Rastina | Studi Kualitas Air Sungai Yeh Ho Kabupaten Tabanan |
| 0213126102 | I Made Sudita | Pelestarian Fungsi Air di Kawasan Pura Tirta Empul Desa Manukaya ( Kajian Aspek Ekonomi Lingkungan ) |
| 0213126105 | A.A.Gd. Ngr. Anom Jambe | Tingkat Pencemaran Logam Hg, Pb dan Cd Pada Air Minum di Bali |
| 0213126106 | I Wayan Andi Suryantara | Studi Komunitas Padang Lamun di Perairan Pantai Sanur dan Nusa Dua, Bali |
| 0213126111 | Dewa Gde Rai Taman Aribawa | Studi Potensi Air Danau Buyan Kecamatan Sukasada Kabupaten Buleleng |
| 0213126112 | Asio Freitas | Pengelolaan Sanitasi dan Kesehatan Lingkungan Dalam Perencanaan Tata Ruang |
| 0213126113 | I Wayan Suardika | Perecanaan Pengembangan Ekowisata di Taman Wisata Alam Danau Buyan |
| 0213126114 | I Made Suwitra | Kualitas Bakteriologis Air Minum Isi Ulang di Kota Denpasar |
| 0391261001 | I Made Arta Wiguna | Studi lahan Hutan, Perkebunan dan Sawah di Kecamatan Petang Badung |
| 0391261002 | Putu Ening Nitikesari | Analisis Tingkat Partisipasi Masyarakat Dalam Penenganan Sampah Secara Mandiri di Kota Denpasar |
| 0391261003 | I Gede Hendrawan | Barotropic Model to Calculate Water Circulation in Benoa Bay, Bali. |
| 0391261004 | Laswan Hadi | Pengaruh Limbah Pemindangan Terhadap Kualitas Bakteriologis dan Kimia Air Sumur Gali Penduduk di Desa Dawan Kabupaten Klungkung |
| 0391261005 | I Nengah Muliarta | Srudi Pengolahan Limbah Medis Pada RSUD Wangaya Denpasar |
| 0391261007 | I Made Iwan Dewantama | Studi Efektivitas Pengelolaan Kolaboratif Kawasan Perairan Taman Nasional Bali Barat Terhadap Tutupan Karang Hidup dan Sosial Ekonomi Masyarakat Lokal |
| 0391261008 | Ni Luh Gede Sudaryati | Pemanfaatan Sedimen Perairan Tercemar Sebagai Bahan Lumpur Aktif Dalam Pengolahan Limbah Cair Industri Tahu |
| 0391261010 | Ketut Suharta | Studi Peresapan Air Hujan di Kota Denpasar |
| 0391261011 | I Gede Sudiarta | Analisis Citra Satelit ASTER untuk Pemetaan Sebaran dan Status Kondisi Terumbu Karang di Kepulauan Nusa Penida |
| 0391261012 | I Gusti Agung Surya Dipta Darsika | Hubungan Kinerja Lalu Lintas Dengan Kadar CO di Jalan Raya Legian, Kecamatan Kuta |
| 0391261013 | Junaidi | Pengaruh Pendidikan dan Kemiskinan Terhadap Kerusakan Terumbu Karang di Kabupaten Lombok Barat |
| 0391261014 | Dewa Ngakan Ngurah Adi | Konsepsi Tengat Masyarakat Bali Kaitannya Dengan Pelestraian Lingkungan Studi Kasus di Desa Pakraman Tenganan Pegeringsingan Kabupaten Karangasem. |
| 0391261015 | I Putu Sudiartawan | Studi Kualitas Air Sumur Gali di Desa Pengambengan Kabupaten Jembrana |
| 0391261016 | Made Vivi Oviantari | Studi Kualitas Air di Mata Air Sanggalangit, Pemuteran dan Banyuwedang Kecamtan Gerokgak, Kabupaten Buleleng, Propinsi Bali |
| 0391261017 | Made Witari | Studi Kerifan Ekologi dalam Pengelolaan Kawasan Agrowisata Salak Sibetan di Karangasem Bali. |
| 0491261001 | I Made Nada | Studi Evaluasi Dampak Pembangunan Fisik Tata Ruang Bedugul Pancasari, Bali |
| 0491261002 | Ida Ayu Kalpikawati | Studi Kualitas Air Limbah di Bandar Udara Ngurah Rai Tuban, Bali |
| 0491261003 | I Made Letra | Hubungan Pengambilan Air Pada Mata Air di Desa Baha Dengan Keberadaan Subak Bulan, Pasedahan Yeh Sungi, Kecamatan Mengwi Kabupaten Badung |
| 0491261004 | Ni Luh Komang Sulasmini Mudra | Peranan Tanaman Penghijauan Terhadap Pencemaran Udara dan Kualitas Lingkungan di Kota Denpasar |
| 0491261005 | I Nyoman Sudipa | Studi Kualiltas Pengelolaan Air Limbah di Hotel Alila Ubud |
| 0491261006 | Nita Elyazar | Dampak Aktivitas Masyarakat Terhadap Tingkat Pencemaran Air Laut di Pantai Kuta, Kabupaten Badung Serta Upaya Pelestarian Lingkungan |
| 0491261007 | I Wayan Jana | Analisis Karakteristik Sampah dan Limbah Cair Pasar Badung Dalam Upaya Pemiihan Sistem Pengelolaannya |
| 0491261008 | Shinta Enggar Maharani | Studi Karakteristik Sampah Rumah Tangga Dalam Upaya Pemilihan Pola Penanganan Sampah Terpadu di Kabupaten Banyuwangi, Propinsi Jawa Timur |
| 0491261009 | I Komang Agus Diatmika | Ecologycal Analysis of Mapping Alga Habitat Arround Bali Using Landsat Data |
| 0491261010 | Nyoman Dati Pertami | Study on the Vertical Distribution of Chlorophyll in Coastal Ocean ; Development of Vertical Model Funtion at Western Sumbawa Sea |
| 0491261011 | I Nyoman Dodik Prasetia | Study of Coral Recruitment in Nusa Lembongan Island, Nusa Penida, Klungkung Bali |
| 0491261012 | I Ketut Swardika | Study Estimate Concentration of Water Constituante in Case-2 Water Around Bali Using Invers Model Neural Network |
| 0491261013 | I Wayan Karyawan | Study on Carbon Dioxide ( CO2) Flux in the Indian Ocean Using Satellite |
| 0491261014 | Ni Made Diarniti | Monitoring of the Vegetation Coverage Using Vegetation Index in Denpasar During 1994-2003 |
| 0491261015 | Luh Made Chandra Astiti Ratnasari | Study on Sea Surface Temperature ( SST ) Variability in Lombok Strait and Southern Bali Island During the 1997/1998 Enso ( A Synergy of Remotely Sensed Ocean Color, Altimetry, and in Situ Data ) |
| 0491261016 | Gusti Ayu Kade Armaheni | Estimation of Tuna Fishing Ground in Northeastern Indian Ocean by Satellite Images and Fisheries Data |
| 0491261017 | Made Denny Satya Wijaya | Study on Sea Surface Temperature ( SST ) and Chlorophyll-A Using Satellite Imagery in Western Sumbawa Sea : Comparison With In- Situ Data |
| 0491261018 | Ni Luh Made Ari Sugianthi | Monitoring Mangrove Area in Benoa Bay Using Lansat TM and ETM+Data |
| 0591261001 | I B Djaja Utama Dauh | Studi Kualitas Air Sungai Kumai dan Sekonyer Taman Nasional Tanjung Puting Kalimantan Tengah |
| 0591261002 | Syachry Banun | Kajian Ekologis Pengelolaan Tambak Udang di Dusun Dangin Marga Desa Delodbrawah Kecamatan Mendoyo Kabupaten Jembrana Bali |
| 0591261003 | I Made Arsawan | Pemanfaatan Metode Aerasi Dalam Pengolahan Limbah Berminyak |
| 0591261004 | I Ketut Suja | Nilai Ekonomi Kawasan Wisata Alam Danau Buyan-Tamblingan Sebagai Objek Wisata di Bali (Suatu Kajian Ekonomi Lingkungan) |
| 0591261005 | I Gede Ketut Sri Budarsa | Studi Paparan Medan Magnet Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (SUTET) Pada Pertumbuhan Sayuran Caisim (Brassica Juncea L) |
| 0591261006 | Putu Ika Wahyuni | Evaluasi Pengembangan Ekowisata di Kawasan Tahura Ngurah Rai |
| 0591261007 | Ketut Agung Sudewa | Tingkat Residu Pestisida Pada Sayuran Kubis (Brassica oleracea) dan Kacang Panjang (Vigna sinensis) yang Dipasarkan di Pasar Badung Denpasar. |
| 0591261008 | Anggi Suprabawati | Identifikasi Sumber Pencemar dan Kualitas Air Sungai di Desa Canggu dan Desa Dalung Kecamatan Kuta Utara Kabupaten Badung Propinsi Bali |
| 0591261009 | Ni Kadek Dita Cahyani | Identifikasi Jejaring Pengelolaan Konservasi Penyu Hijau (Chelonia Mydas) Melalui Penentuan Komposisi Genetik dan Metal Tag di Laut Sulu Sulawesi |
| 0591261010 | Dinna Carmelia | Kualitas Air Sumur Gali di Kawasan Industri Perikanan di Desa Kedungrejo, Kecamatan Muncar, Kabupaten Banyuwangi, Provinsi Jawa Timur |
| 0591261011 | L.G. Wahyu Widyarini | Studi Kualitas Hasil dan Efektivitas Pengomposan Secara Konvensional Versus Modern di TPA Temesi-Gianyar-Bali |
| 0591261012 | Maria Theresia Indarwati | Analisis Kadar Logam Berat Air Sungai Sekonyer di Kabupaten Kota Waringin Barat Kalimantan Tengah |
| 0591261013 | I Putu Evan Santayana W. | Evaluasi Inisiatif Pengelolaan Konservasi dan Biofisik Hatchery di Kawasan TCEC ( Turtle Conservation and Education Center ) Desa Serangan Kota Denpasar, Bali |
| 0591261014 | I.A.Made Ari Trisnawulan | Analisis Kualitas Air Sumur Gali di Kawasan Pariwisata Sanur |
| 0591261015 | Dewa Nyoman Alit Ardana | Tingkat Kandungan Unsur Radioaktif Air Sungai Ayung di Denpasar Bali |
| 0591261016 | Gede Yasada | Monitoring of Coastal Erosion in Southeast Part of Bali Area Using Remote Sensing Technique and Numerical Model |
| 0591261020 | Sigit Julimantoro | Corerelation Between Actual Fishery Data and Fish Production Derrived From Satellite Data in North East Indian Ocean |
| 0591261021 | Putu Gede Eka Darmaputra | The Application of Remote Sensing in Tourism at Nusa Dua Tourist Resort of Bali Island |
| 0691261001 | I Made Tapa Yasa | Pengaruh Kandungan Solar dan Linier Alkilbensen Sulfonat (LAS) Dalam Air Campuran Terhadap Kuat Tekan Beton |
| 0691261002 | I Nyoman Sukma Arida | Problematik dan Alternatif Strategi Pengembangan Ekowisata Banjar Kiadan, Pelaga, Petang, Kabupaten Badung |
| 0691261003 | Tjok Istri Ratna Cora Sudharsana | Dampak Sosial Penggunaan Energi Listrik Tenaga Surya terhadap Gaya Hidup (Life Style) Masyarakat di Desa Pusu, Kecamatan Amanuban BaratKabupaten, TTS, NTT |
| 0691261004 | I Nyoman Surayasa | Faktor-faktor yang Mempengaruhi Banjir Pada Saluran Drainase Sistem III di Kota Singaraja |
| 0691261005 | Ni Made Marwati | Kualitas Air Sumur Gali Ditinjau Dari Kondisi Lingkungan Fisik dan Perilaku Masyarakat di Wilayah Puskesmas I Denpasar Selatan |
| 0691261006 | Bejo Slamet | Studi Kualitas Lingkungan Perairan di Daerah Budidaya Perikanan Laut di Teluk Kaping dan Teluk Pegametan, Bali |
| 0691261007 | Suko Ismi | Studi Dampak Perkembangan Pembenihan Ikan Laut Terhadap Penurunan Kualitas Lingkungan di Kecamatan Gerokgak Kabupaten Buleleng |
| 0691261008 | I Nyoman Raka Arwita | Analisis Vegetasi, Sifat Fisik dan Kimia Tanah Serta Erosi Pada Beberapa Penggunaan Lahan dan Tingkat Kemiringan Lereng di Desa Belok, Kecamatan Petang, Badung |
| 0691261009 | Ni Made Ariasih | Studi Tingkat Pencemaran Air Pencucian Kacang Koro (Vigna uguiculata L) di Saluran Irigasi Timuhun Desa Nyanglan Kabupaten Klungkung |
| 0691261010 | Arbain | Pengaruh Air Lindi Tempat Pembuangan Akhir Sampah Suwung Terhadap Kualitas Air Tanah Dangkal di Sekitarnya di Kelurahan Pedungan Kota Denpasar |
| 0691261011 | I Wayan Putra Yadnya | Tingkat Kebisingan dan Tajam Dengar Petugas Ground Handling di Bandara Ngurah Rai Bali |
| 0691261012 | Boni Asso | Kajian Strategis Pengembangan Potensi Ekowisata di Lembah Baliem Sebagai Suatu Alternatif Pengelolaan Pariwisata Berkelanjutan |
| 0691261013 | Made Agus Sukarji Putra | Evaluasi Pengembangan Ekowisata Desa Budaya Kertalangu di Desa Kesiman Kertalangu Kota Denpasar |
| 0691261014 | I Made Jaya Ratha | Pemanfaatan Satelit Telemetri dalam Identifikasi Pola Pergerakan dan Pengelolaan Konservasi Penyu Hijau (Chelonia mydas) di Indonesia |
| 0691261015 | Hidayatun Nisa’ Purwanasari | Identifikasi Komposisi Genetik Penyu Hijau (Chelonia mydas) di Pantai Peneluran Sukamade Taman Nasional Meru Betiri Jawa Timur dan Implkasi Pengelolaan Konservasinya. |
| 0691261016 | Dwi Suprapti | Identifikasi Seks Rasio Tukik Penyu Hijau (Chelonia mydas) dan Penyu Belimbing (Dermochelys coriacea) di Berbagai Pantai Peneluran Utama di Indonesia. |
| 0691261017 | I Ketut Ary Popo Widhiana Putra | Studi Kualitas Perairan Pantai di Kawasan Industri Perikanan, Desa Pengambengan, Kecamatan Negara, Kabupaten Jembrana |
| 0691261018 | I Nyoman Widya | Dampak Usaha Pemotongan Hewan dan Unggas Terhadap Kualitas Perairan Sungai di Desa Darmasaba Kecamatan Abiansemal Kabupaten Badung |
| 0691261019 | Galih Indrawati | Studi Komunitas Rumput Laut di Pantai Sanur dan Pantai Sawangan Nusa Dua Bali |
| 0691261021 | I Nyoman Gede Suyasa | Hubungan Faktor Lingkungan dan Perilaku Masyarakat Dengan Keberadaan Vektor Demam Berdarah Dengue (DBD) di Wilayah Kerja Puskesmas I Denpasar Selatan |
| 0691261023 | I Wayan Gede Astawa Karang | Estimates of Tidal Energy Dissipation and Diapycnal Diffusivity in the Indonesian Seas |
| 0691261026 | Bambang Sukresno | Dynamical Analysis of Banda Sea Concerning With El Nino, Indonesian Through Flow and Monsoon By Using Satellite Data and Numerical Model |
| 0691261027 | Komang Iwan Suniada | Primary Production and Fish Production Estimation Derived From Satellite Data in Banda Sea |
| 0691261028 | Syaiful Anas | Behavior of Changjiang Diluted Water in the East China Sea Observed With Satellite Tracking Drifters |
| 0691261029 | Bardiyanto | Study of Fish Production for India Mackerel (Rastrelliger kanagurtta) Using Satellite Data in Java Sea Case Study : Southeast and Northwest Monsoon Period |
| 0691261030 | Nur Dian Suari | Chemical Composition of Suspended Particle Matter in Surface Sea Water of North Western Pacific Marginal Seas |
| 0691261031 | Herman | Study of Total Suspended Matter Distributon Using Satellite Data and Numerical Simulation in Porong Sidoarjo, East Java |
| 0691261032 | Teguh Prayogo | Study on Oceanographic and Weather Conditions Related to the Abundance of Small Pelagic Fishery in Natuna Sea Using Remote Sensing Data |
| 0691261033 | Widitya Putri Fitriyanny Subagio | Environmental Sensitivity Index Assement Using Formosat-2 Satellite Data and Ground Truth Data (A Case Study : Labuan Coastal, Banten Province, Indonesia) |
| 0691261034 | Retno Andiastuti Ambarini | Satellite-Based Local Primary Productivity Algorithm for a Station S3 in the Sagami By, Japan (Case Study for Late Autumn - Winter Period) |
| 0691261035 | Imam Safi’i Hanafi | Verification of Tuna (Thunus spp) Fishing Ground With Chlorophyyll -A, Sea Surface Temperature and Sea Surface Height and it’s Correlation at South Java Sea During Northwest and Southeast Monsoon |
| 0691261036 | Mokhlas Satibi | Evaluation of Tuna Fishing Ground in Southern Coast of Java-Sumbawa Sea Using Satellite Observed Data |
| 0691261037 | Supratman | Study of Stastistical Corelation Among Fish Production and Indian Ocean Dipole and Monsoon in Western Indonesian Sea Using Satellite Data |
| 0691261038 | Komang Ardana | Study of Pollutant Distribution in Benoa Bay Using Numerical Simulation and Satellite Data |
| 0691261039 | Hariyadi | Pemanfaatan Data Satelit dan Sistim Informasi Geografis (SIG) Untuk Menentukan Daerah Perikana Pantai di Laut Selatan Jawa Barat |
| 0691261040 | Suciati | Study of Coral Reef Distribution Around Badung Strait Using ALOS Satellite Data |
| 0791261002 | Ida Ayu Trisna Eka Putri | Studi Sistem Pengelolaan Sampah Berbasis Komunitas Adat di Desa Adat Seminyak, Kecamatan Kuta, Kabupaten Badung |
| 0791261003 | Ludgardis Ledheng | Komposisi dan Struktur Vegetasi Mangrove di Pantai Tanjung Bastian Kabupaten Timor Tengah Utara Provinsi Nusa Tenggara Timur |
| 0791261004 | I Putu Sastra Negara | Pengaruh Nilai Oktan Bahan Bakar dan Putaran Mesin Pada Kendaraan Bermotor Terhadap Karakteristik Emisi Gas Buang dan Lingkungan |
| 0791261006 | I Made Bulda Mahayana | Hubungan Kepadatan Kendaraan dengan Gas Karbon Monoksida Udara Ambien dan Karboksihemoglobin Juru Parkir di Jalan Gajah Mada Denpasar |
| 0791261007 | Luh Made Suriwati | Study of Total Suspended Matter Transportation and Circulation in Jakarta Bay Using Numerical Simulation and Satellite Data |
| 0791261008 | Apri I Supii | Studi Kualitas Perairan Pada Kegiatan Budidaya Tiram Mutiara (Pinctada maxima) di Kecamatan Gerokgak, Kabupaten Buleleng, Bali |
| 0791261011 | Abd. Rahman As-syakur | Estimation Gross Prymary Production Using Satellite Data and GIS in Urban Area, Denpasar |
| 0791261012 | I Dewa Nyoman Nurweda Putra | Studi of Ocean Circulation in Indonesian Archipelago Sea Using Three Dimensional Ocean Model |
| 0791261013 | Ende Kasma | Estimation of Primary Productivity for Tuna in Indian Ocean |
| 0791261015 | Sri Puji Astuti | Maping of Marine Plants Distribution in North Coastal Area of Sumbawa Regency Using ALOS/AVNIR-2 Data |
| 0791261018 | Ni Wayan Ekayanti | Study of Air Sea Interaction and CO2 Exchange Process Between the Atmosphere and Ocean Using ALOS/PALSAR (Study Cases of Wind Wave Bubling Process in Badung and Lombok Straits) |
Langganan:
Postingan (Atom)
